Mewujudkan Ide Gila Demi Kemuliaan Umat Manusia
Unmatta Pragnya: “Parama Sadhana Kendra Sabha”.

JMA Dr. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, M.TP (Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat)

Oleh : Jro Mangku Ageng Dr. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, M.TP *)

 

MENURUT sejarah, penemuan-penemuan baru atau keajaiban-keajaiban dunia dimulai dari ide gila (“crazy idea”) yakni sebuah pemikiran ambisius di luar kebiasaan manusia. Seluruh aktivitas berpikir yang menghasilkan Ide Besar dapat disebut “crazy mind”. Keajaiban-keajaiban dunia yang diwarisi saat ini, antara lain: Borobudur, Prambanan, Tembok Besar China, Taj Mahal dan lainnya yang kemudian banyak menjadi tanggung jawab UNESCO, itu semua hasil berpikir gila (crazy mind).

Kami sedang merancang Ide Gila (sebagai sebuah kajian yang akan diajukan menjadi keputusan PHDI), ambisius, altruis, futuristik, religius, spiritualis untuk tujuan semakin menggelorakan ajaran Sanatanadharma yang berbasis Veda dan kearifan lokal Nusantara yang berorientasi global. Dalam bahasa Veda, pemikiran ini disebut “Unmatta Pragnya”. “Unmatta” artinya gila dan “Pragnya” artinya diseputar kebijaksanaan dan kecerdasan, yang merupakan kristalisasi dari talenta, bakat, kecerdasan dan sangat kreatif-inovatif. Dengan demikian makna dari “Unmatta Pragnya” adalah meskipun pikiran itu dapat dianggap “gila” atau “crazy” menurut standar konvensional, namun ia memiliki kebijaksanaan yang unik dan mendalam yang berasal dari pemikiran di luar yang biasa (di luar kebiasaan masyarakat biasa/umum). Cara berpikir inilah yang mendasari mengapa 7 (tujuh) keajaiban dunia itu hadir. Hari ini kita kagum atas  perkembangan teknologi dan informasi saat ini, yang memungkinkan manusia membuat sesuatu yang sangat super sebagaimana telah dilakukan para leluhur kita di jaman dahulu.

Bangunan dan ruhnya agar dapat memberikan inspirasi pada upaya bersama membangun kedamaian dan kebahagiaan dunia (kaivalya) dan kebebasan sejati (mokhsa) untuk semua kehidupan, bukan saja di Indonesia tetapi di Dunia. “Bangunan” ini di dalamnya telah tersedia tampat melakukan ivadah ( Hindu, sadhana), museum, laboratorium pustaka suci dan perputakaan hybrid berbasis digital, aktivitas seminar dan pendukungnya, pelatihan yoga sesuai dengan Patanjali Rajayoga, pengembangan ekonomi, entrepreneurship (star up, holding, crypto, dll) yang berbasis Arthasatra dan transformasinya, guru-sisya parampara, siddhiusadha berbasis Ayurveda, pembangunan kader pemimpin, Nata-Niti berdasarkan pustaka Nitisastra-Dharmasastra dan Tirukural serta kearifan lokal Nusantara.

Bangunan multi fungsi ini diberi nama “Parama Sadhana Kendra Sabha“. Parama Sadhana Kendra Sabha  ini didedikasikan untuk kedamaian dan keharmonisan dunia, keheningan, kesejahteraan dan kesadaran dengan berbagai aktivitas yang berlandaskan Veda yang diperluas sesuai dengan dinamika waktu (kalla) dari jaman ke jaman. Parama Sadhana Kendra Sabha  mencakup esensi dari latihan spiritual tertinggi, pengembangan diri (self development), dan tempat berkumpulnya para Yogi, Sadu yang berpikiran sama, yang menekankan aspek pertemuan atau majelis, menyoroti sifat kolaboratif dari kegiatan yang terjadi di temple (tempat suci).

Secara keseluruhan, Parama Sadhana Kendra Sabha adalah nama yang bermakna dan mencerminkan tujuan dan visi bait suci Hindu yang Sanathanadharma. Pembangunan akan dimulai sekarang dan seratus tahun kemudian. Mungkin besok, mungkin juga seratus tahun lagi. Namun, perlu dipertimbangkan, sebuah nama lain Parama Sadhana Kendra Sabha yang berbau Nusantara, agar lebih melidah dan fasih diucapkan.  Mungkin nama yang cukup bagus “Museum Agung Hindu Dharma Vidya Smerti. Bagi yang berminat, sangat mungkin memperoleh hasil dari perbuatan baik dan mulia (pahalasubhakarma). Rahayu (Kdi, 090723: 70, *) Penulis adalah Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Periode 2021-2026).

Share :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email