Karir Dr. I Gusti Made Sunartha, S.Ag, M.M di Kementerian Agama memasuki babak baru. Pria kelahiran Kemenuh, Gianyar, 31 Desember 1969 ini dilantik sebagai oleh Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali pada Selasa (30/12/2025) di Jakarta. Pelantikan ini langsung diumumkan secara luas oleh Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si melalui media, baik mainstream maupun media sosial.

Sebelum dilantik sebagai Kakanwil Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha adalah Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI. Pria kalem yang juga seorang Pemangku di Desa Kemenuh, Gianyar ini dikenal memiliki pengabdian panjang di Kementerian Agama. I Gusti Made Sunartha adalah salah satu figur sentral dalam pengembangan tata kelola Agama Hindu, pendidikan keagamaan Hindu melalui Pasraman Widyalaya yang sedang gencar dikembangkan di seluruh Indonesia, serta pembinaan umat lintas daerah di Indonesia.
Jauh sebelum mengemban tugas baru di Bali, I Gusti Made Sunartha pernah bertugas lama di Papua. Ia memulai pengabdian sebagai penyuluh Agama Hindu, penyelenggara Bimas Hindu, hingga Kasubag Tata Usaha Kemenag Kota Jayapura, kemudian menjadi Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Papua. Sunartha kemudian dipindahtugaskan ke STAH Negeri Mpu Kuturan di Singaraja (Saat ini IAHN Mpu Kuturan), dan pernah menjabat Kepala Biro di UHN I Gusti Bagus Sugriwa. Pengabdian panjang lapangan tersebut mengantarkannya dipercaya menduduki jabatan strategis saat ini.
Menurut peraih gelar Doktor pada 5 Juli 2022 dalam sidang Terbuka Promosi Doktor Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa ini, jabatan yang diemban bukanlah beban individu, melainkan tanggung jawab bersama yang harus disyukuri dan dijalani dengan semangat kolektif. Di tengah kompleksitas kebijakan pusat yang harus disesuaikan dengan karakter dan kekhasan daerah, ia mengingatkan seluruh jajaran di Kementerian Agama untuk tidak larut dalam tekanan maupun persoalan yang dihadapi.
I Gusti Made Sunartha segera mengawali tugasnya di Kemenag Provinsi Bali dengan konsolidasi internal. Melalui pesannya kepada Majalah Craddha, I Gusti Made Sunartha akan efektif bertugas di Kemeng Provinsi Bali mulai Senin 5 Januari 2026. Ia telah mengagendakan pertemuan dengan para pejabat Kementerian Agama kabupaten/kota se Bali, tokoh lintas agama dan akan membuka kerjasama dengan media, baik cetak maupun elektronik, dan kerjasama dengan para pegiat seni budaya di Bali.

Menurutnya, tantangan umat Hindu saat ini dihadapkan pada orientasi materialistis. Kondisi saat ini berpotensi menggeser nilai-nilai spiritualitas, jika tidak diimbangi secara bijak. “Manusia mungkin dapat hidup dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tanpa agama akan kehilangan arah. Karena itu, dibutuhkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani,” ujarnya.
Baginya, agama dan pendidikan agama memiliki peran strategis dalam melahirkan peradaban baru yang berkarakter. Meskipun masih ada minat masyarakat terhadap pembelajaran spiritual, namun pendekatan keagamaan ke depan perlu dibuktikan secara ilmiah dan aplikatif. “Ajaran agama tak cukup disampaikan secara konvensional, tetapi perlu dibuktikan dampaknya secara nyata dalam pergaulan sosial, etika, pikiran dan perkataan serta pembangunan manusia” ujarnya.
Menurut I Gusti Made Sunartha, organisasi formal bukanlah panggung individu, tetapi ruang kolaborasi yang menuntut keterlibatan seluruh elemen, termasuk kaum intelektual dan generasi muda, demi menjamin keberlanjutan budaya, seni, dan nilai-nilai keagamaan.
Karena itu, menurut peneliti Disertasi Peranan Dalem Waturenggong dalam pelaksanaan ajaran Agama Hindu di Bali ini, perubahan positif dalam tata kelola sebuah lembaga tak dapat dilakukan secara instan, semuanya butuh proses, kesabaran, dan pemahaman yang sama. Ia yakin dan optimis, dengan pondasi kerja tim yang kuat dan solid, komunikasi yang terbuka dan intensif dan visi yang sama, Kemenag Provinsi Bali mampu menjawab tantangan jaman sekaligus tetap menjaga jati diri Agama Hindu yang dibalut dengan budaya Bali (ram).