Kemajuan akademik dan literasi teknologi generasi muda tidak otomatis berbanding lurus dengan kematangan moral dan empati sosial. Kesimpulan ini mengemuka dalam hasil penelitian kolaborasi internasional yang melibatkan Indonesia, India, dan Thailand, yang mengkaji revitalisasi nilai Dharma dan Prema dalam pengembangan Kurikulum Cinta perspektif Hindu. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ni Kadek Surpi, Drs. I Ketut Donder, Ph.D, Dr. Prasanthy Devi Maheswari, Drs. I Ketut Wardana, bersama Prof. (Dr.) Sandhya Tiwari dari India dan Associate Professor Dr. Sophana Srichampa, Thailand sejak Bulan Mei sampai dengan Nopember 2025 lalu menemukan bahwa sistem pendidikan di ketiga negara cenderung berhasil mencetak peserta didik yang unggul secara kognitif, namun belum efektif membentuk empati, kepekaan sosial, dan tanggung jawab etis di tengah masyarakat yang semakin kompleks.
Melalui studi komparatif terhadap kebijakan pendidikan, kurikulum agama, serta praktek pembelajaran di sekolah dan lembaga keagamaan, riset ini mengungkap akar persoalan utama: nilai moral dan spiritual masih diajarkan sebagai pengetahuan normatif, bukan sebagai pengalaman hidup. Akibatnya, peserta didik memahami konsep etika dan kasih sayang secara teoritis, tetapi gagal menginternalisasikannya dalam perilaku sehari-hari, baik di ruang sosial maupun digital.
Temuan riset menunjukkan meningkatnya gejala dehumanisasi relasi sosial, menurunnya empati lintas identitas, serta rapuhnya etika digital di kalangan generasi muda, fenomena yang terjadi relatif seragam di Indonesia, India, dan Thailand, meskipun ketiganya memiliki akar budaya dan tradisi Hindu yang kuat.
Menanggapi kondisi tersebut, tim peneliti menawarkan Kurikulum Cinta Berbasis Dharma–Prema sebagai model pembaruan pendidikan karakter yang lebih kontekstual dan transformatif. Kurikulum ini menempatkan Dharma sebagai kompas etika dan Prema sebagai roh kasih sayang universal, yang diintegrasikan dalam proses pembelajaran melalui refleksi, dialog, dan praksis sosial, bukan sekadar ceramah moral.
Dalam konteks Indonesia, hasil riset ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan nasional berupa krisis karakter, melemahnya kohesi sosial, serta meningkatnya konflik di ruang digital. Secara lebih luas, temuan dari India dan Thailand memperkuat argumen bahwa pendidikan nilai berbasis empati dan tanggung jawab sosial merupakan kebutuhan mendesak dalam menghadapi disrupsi teknologi dan krisis kemanusiaan global.
Riset kolaborasi internasional ini menegaskan bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang cerdas, tetapi harus membentuk manusia yang berwelas asih, beretika, dan bertanggung jawab secara sosial serta ekologis. Tanpa perubahan paradigma kurikulum, kemajuan intelektual justru berisiko melahirkan generasi yang terampil secara teknis namun rapuh secara moral (sur/ram).
#risetkolaborasiinternasional
#generasimudacerdas
#nilaidharmaprema
#unggulkognitif
#miskinempati
#krisiskarakter