Jalan Membangun Cinta (Bhakti) kepada Tuhan : Kaivalya dan Moksha

JMA Dr. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, M.TP (Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat)

Oleh : Jro Mangku Ageng Dr. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, M.TP *)

 

Om Avighnam Astu Nama Siddham, Om Svasti Astu

Sejatinya, tujuan setiap gerakan dan aktivitas umat Hindu setiap hari, mulai dari dauh brahma muhurta sampai dengan matahari tenggelam (sandyakala)  adalah mencapai rasa aman dan bahagia. Rasa aman itulah yang mereka pandang kebahagian (kaivalya). Kebahagiaan tanpa batas menghasilkan kebebasan yang menjadi tujuan tertinggi (moksha). Namun, sangat tidak mungkin mendapat kebahagian tanpa dilandasi cinta (bhakti). Itulah sebabnya umat Hindu dianjurkan melaksanakan Yoga, yaitu menyelaraskan tubuh/badan (angga sarira) dengan pikiran (citta). Karma yang paling tinggi adalah melayani dengan pelayanan yang tulus iklas (lascarya nekeng saking tuas atau sevanam).

Dalam filsafat Hindu dikenal 4 (empat) jalan mencapai kedudukan Tuhan yaitu Catur Karma Yoga Marga (Rajayoga, Jnanyoga, Karmayoga dan Bhaktiyoga) dengan sembilan teknik yang disebut dengan Nava Vidhabhakti (Sravanam, Vedanam, Kirthanam, Smaranam, Padasevanam, Sukhyanam, Dhasyam, Archanam dan Sevanam). Sementara itu, Hindu mengajarkan 5 (lima) jenis Cinta, yang disebut Panca Bhkatiangga (Kama, Shringara, Maitri, Bhakti dan Atmaprema). Perpaduan dari jalan dan teknik ini menghasilkan 11 (sebelas) tipe kecintaan kepada Tuhan (Ekadasi Bhakti). Dalam Naradha Bhakti Sutra, Sloka 82, disebutkan 11 Tipe Cinta kepada Tuhan, sebagai berikut:

“guṇa-māhātmyāsakti-rūpāsakti-pūjāsakti-smaraṇāsak ti-dāsyāsaktisakhyāsakti-vātsalyāsakti-kāntāsakty-ā tma-nivedanāsakti-tan-mayāsaktiparama-virahāsakti-rūpai kadhāpy ekādaśadhā bhavati”.

Berdasarkan sukta tersebut, lalu disebutkan  11 tingkatan bhakti kepada Tuhan terdiri atas: Guna atau Mahatamya, Rupa, Pooja, Smaran, Daasya, Sakhya, Kanta, Vaatsalya, Atma, Tanmayataa, dan Param-viraha.

  1. Gunasakti atau Mahatamyasakti, kecintaan seseorang kepada Tuhan diwujudkan dalam bentuk membuat narasi/puisi, menyanyikan kesucian Tuhan yang menceritajan keutamaan dan ke-Esaan Tuhan. Misalnya: membuat cerita atau kisah kisah inspiratif tentang Tuhan, membetuk Sekeha santi, geguntangan dan sejenisnya.
  2. Rupasakti, kecintaan kepada Tuhan ditunjukkan dengan selalu membayangkan wujud Tuhan dan memuja wujud tersebut.
  3. Poojasakti, kecintaan kepada Tuhan diwujudkan dalam bentuk melakukan puja kepada Tuhan, yang merupakan pemujaaan umum dilakukan umat Hindu melalui berbagai bentuk yajna.
  4. Smaran, kecintaan kepada Tuhan yang tulus diwujudkan dengan secara terus-menerus menyebut nama Tuhan secara konstan (Namasmaranam).
  5. Daasya, kecintaan kepada Tuhan diwujudkan dengan rasa senang dan gembira menjadi pelayan Tuhan dengan tidak berharap apa pun. Misalnya: Pandita, Pinandita dan Pemangku dan lainnya pelayan Tuhan yang tulus ikhlas.
  6. Sakhya, pemuja menunjukkan kecintaanya kepada Tuhan dengan cara merasa berbahagia sebagai sahabat karib Tuhan yang disebut Sakhya Bhakti. Pemuja berbahagia menjadi sahabat akrab Tuhan dan terus bersama-Nya.
  7. Kanta, pemuja selalu merasa berbahagia memuja Tuhan karena telah memaknai hakikat Atma, bahwa Atma adalah bagian dari kemahakuasaan Tuhan. Kesadaran ini disebut Kantabhakti atau Atmaprema.
  8. Vaatsalya, pemuja menujukkan kecintaannya kepada Tuhan dengan pandangan sebagaimana seorang ibu menyayangi anaknya yang tidak memiliki imbalan apa pun. Semuanya untuk pujaannya yaitu Tuhan.
  9. Atma, pemuja mewujudkan kecintaannya kepada Tuhan dengan cara menyadari bahwa dirinya adalah Tuhan itu sendiri “aham brahma asmi”. Karenanya, ia memuja Tuhan secara internal yang berada di relung hatinya (ring padma Hrdaya). Badan adalah stata/pura tempat bersemayamnya Tuhan.
  10. Tanmayataa, pemuja menunjukkan kecintaanya kepada Tuhan dengan menyadari bahwa seluruh pikiran, pembicaraan, perbuatan adalah atas kuasa Tuhan. Kesadaran menyeluruh ini meluber ke eskternal dengan membangun cinta kasih kepada seluruh ciptaan-Nya.
  11. Param-viraha, pemuja mewujudkan kecintaannya kepada Tuhan dengan cara menyadari bahwa dirinya sendiri terpisah dengan Tuhan, Tuhan Maha Besar dan Agung, sedangkan dirinya sendiri sangatlah tidak memiliki kekuasaan dan termat kecil (Hina mantram, Hina aksaram, dll). Dengan cara ini, seseorang menyadari betapa Agungnya Tuhan sehingga tumbuh rasa kagum dan cinta yang tinggi.

Keragaman cara jalan menuju Tuhan (marga) dalam Bhagawad Gita disebutkan secara harfiah “jalan apa pun yang engkau tempuh menuju-Ku, akan Aku terima”. Sang Adikara memberikan keleluasaan kepada Umat Hindu untuk memuja Tuhan sesuai dengan ajaran Veda, baik secara individu maupun melalui kelembagaan. Keragaman ini, semua adalah ciptaan Tuhan. Sungguh beruntung umat Hindu memiliki berbagai pedoman dalam mendekatkan diri bahkan bersatu dengan Tuhan (Amor Ing Acintya).  Karenanya, bagi umat Hindu yang “serius”, sangat penting melaksanakan Guru-Sisya dalam sebuah metode Aguron-guron (Garis Perguruan) sehingga mampu meningkatkan kualitas citta, sraddha dan bhakti dengan baik kepada Tuhan. (Kdi: 020723:3.45, *) Penulis adalah Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Periode 2021-2026).

Share :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email