Bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 Nopember 2025, sejumlah elemen masyarakat Bali menggelar Upacara Patidana dan Jana Jnana Kerthi di Pura Pelantikan, Siti Inggil, Desa Kubutambahan, Buleleng, Bali. Upacara ini merupakan implementasi dari konsep Sad Kerthi dalam agama Hindu yakni enam upaya menjaga kesucian dan keharmonisan alam semesta. Tujuan upacara ini adalah untuk mengembalikan keharmonisan alam sekala dan niskala, untuk memohon kerahayuan jagat mangde jagate degdeg / jagate enteg suci nirmala. Khusus upacara Patidana bertujuan mengembalikan semua roh dari alam ini ke sumbernya dan menyucikan serta menyeimbangkan diri sendiri melalui pengetahuan dan kebijaksanaan untuk mencapai kesempurnaan. Upacara ini dihadiri 7 Bhiksu (dari Jakarta dan Myanmar), Pemangku, Sutri dari Desa Bulian, pemedek dari Desa Sangsit, Puri Klungkung, Jro Mangku dari Tampaksiring, pemedek dari Desa Bulian, Desa Kubutambahan, akademisi Undiksha, Prof. I Gede Budasi dari Desa Menyali, Buleleng.

Upacara Patidana dimulai pukul 10.00 sampai dengan 12.00 Wita dipimpin oleh Jro Mangku Gede dan para Bhiksu. Upacara ini diakhiri dengan nunas tirtha dari Ida Budha dilanjutkan nunas tirtha dari Ida Bhatara Siwa, dilanjutkan berdana makan untuk para Bhiksu dan makan bersama. Pada sore hari mulai pukul 17.00 Wita digelar Yadnya Pemarisudha Jagat dengan upacara Jana Jnana Kerthi.
Rangkaian upacara diawali dengan doa bersama tokoh antarumat beragama yang dihadiri oleh para rohaniwan Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Doa bersama dan upacara ini digelar sesuai kesepakatan rapat tokoh lintas agama pada Kamis, 19 Oktober 2025. Doa bersama lintas agama dilanjutkan dengan Upakara Yadnya Patidana dan Jana Jnana Kerthi untuk keharmonisan alam semesta.

Doa bersama lintas agama dan ritual ini dilatar belakangi oleh kondisi Bali akhir-akhir ini. Bali mengalami berbagai masalah (keberebehan) sambung-menyambung, dilanda berbagai masalah lingkungan, mulai dari masalah sampah, perampasan sempadan sungai, danau, laut, pembabatan hutan, pengerusakan gunung dan seterusnya. Semua masalah itu sangat sulit dipecahkan (ibarat darurat-kiamat). Puncaknya, Bali Selatan Kota Denpasar, Badung dan Gianyar dilanda banjir besar (banjir bandang) tepat Hari Raya Pagerwesi (Rabu, 10 September 2025). Disisi lain, Bali juga tak lepas dari masalah pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu rata-rata 1,5-2,0 C0 (BMKG Bali 2024 ). Global warming ini ditandai oleh musim hujan dan kemarau tidak menentu berakibat kelebihan dan kekurangan air, peresapan air sudah sulit sehingga terjadi genangan menyebabkan gagal panen yang berdampak pada kehidupan Krama Bali baik dari sisi pangan, ketersediaan air bersih dan kesehatan, dan berpotensi terjadi bencana. Bali yang merupakan pulau kecil yang sangat rentan dengan terjadinya pemasan global dan perubahan iklim.
Menurut pakar lingkungan yang juga Kepala Pusat Penelitian Sumberdaya Lahan dan Pertanian Organik Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ni luh Kartini, M.S, Pulau Bali merupakan satu kesatuan ekositem (Nyegara-Gunung) artinya masyarakat Bali harus melestarikan lingkungan dari hulu (gunung ) tengah (tempat Krama Bali beraktivitas ) dan hilir (laut ) secara skala dan niskala sesuai dengan Dresta, Sastra, Bhisama dan Desa Mawacara. “Leluhur kita selalu mengajarkan kepada kita, ketika ada suatu permasalahan sulit diatasi dengan teknologi (sekala) agar diatasi secara niskala dengan upakara dan berdoa memohon kepada Ida Hyang Prama Kawi/Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan jalan keluarnya (solusi) dan penyelesaian permasalahan yang kita hadapi” ungkap Kartini. Prof. Kartini dan sejumlah tokoh lintas agama serta aktivis lingkungan mengajak semua elemen masyarakat untuk meningkatkan kesadaran betapa pentingnya untuk melestarikan dan menyelamatkan lingkungan/Ibu Pertiwi tempat kita berpijak dan menjalankan kehidupan.

Doa bersama antarumat beragama ini pertama kali telah digelar pada 12 Oktober 2009 (16 tahun lalu) digagas oleh Yayasan Bali Organic Association (BOA) dan tokoh-tokoh masyarakat Bali bertempat di Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandi Niti Mandala Renon, Denpasar ditandai dengan ngelinggihang (mensthanakan) Batu Penekek Gumi di areal Monumen Bajra Sandhi. Berselang beberapa tahun kemudian, pada Sabtu, 3 Pebruari 2024 kembali dilanjutkan dengan doa bersama antarumat beragama mengawali upakara Yadnya Pemahayu Pengenteg Jagat dan Peresmian Pura Pelantikan di Siti Inggil Puri Kasih. Upakara Yadnya Patidana dan Pemarisudha Jagat digelar pada Senin, 7 Juli 2025 untuk pembersihan dan penyucian bhuana agung dan bhuana alit, pengharmonisan alam sekala dan niskala, untuk memohon kerahayuan jagat mangde jagate degdeg / jagati enteg suci nirmala. Seluruh rangkaian kegiatan itu dihelat atas kerjasama Yayasan BOA, Yayasan Bali Mula, Paiketan Krama Bali, Puri Kasih Healing Bali dan sejumlah tokoh masyarakat Bali. Upacara itu diawali dengan menanam pohon bodi dan pembuatan biopori (07.30-8.30) dilanjutkan Upacara Yadnya Patidana diantarkan oleh Biksu dan Jro Mangku Gede (09.00-13.00) dan kemudian dilanjutkan dengan Upacara Pemarisudha Jagat diantarkan oleh Jro Mangku Gede Desa Bulian, Jro Poayah (2 orang), Penyarikan dan Kelihan Desa Linggih, Pemuput Sugra Pakulun Ida Sri Bujangga Luwih Sane Ring Sunia (sane melinggih ring Pura Taman Desa Bulian) (ram).