Mahagangga Tirtha Gamana adalah ritual penyucian umat (secara Hindu). Sebelumnya bernama Gangga Pratistha yang pernah dirintis dan dilaksanakan saat Bali dipimpin Gubernur Made Mangku Pastika. Saat Pesamuhan Agung PHDI 17-19 Oktober 2025 Sabha Pandita PHDI sepakat untuk membuat program ritual penyucian umat bernama Mahagangga Tirtha Gamana. Program ini akan dimatangkan dalam Mahasabha PHDI Tahun 2026. Hal itu ditegaskan oleh Dharma Adhyaksa PHDI, Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba dan didampingi Ida Pedanda Istri kepada media ini beberapa waktu lalu di Griya Bang Swarga Manuaba, Muding-Indah Kerobokan, Badung.
Bagi Ida Pedanda Bang, event ini penting untuk manusia yang mau menyucikan dirinya yang di Bali dikenal dengan melukat. Jika dikaitkan dengan temuan ilmuwan Jepang, Dr. Massaru Emoto tentang partikel air yang diberikan doa ucapan dan ungkapan-ungkapan positif, maka air yang diberikan doa dan ungkapan positif akan menghasilkan molekul yang sangat indah. Demikian sebaliknya. Air yang molekul-molekulnya indah dan sempurna akan bermanfaat bagi semua orang dan lingkungan.
“Mahagangga Tirtha Gamana ini juga sangat sejalan dengan warisan leluhur Bali yang menyebut Hindu sebagai Gama Tirtha. Dalam Hindu, semua jenis upacara pasti menggunakan air yang telah didoakan sehingga menjadi air suci atau Tirtha” ujar Ida Pedanda Bang.
Menurut Ida Pedanda Bang, Mahagangga Tirtha Gamana adalah sebuah pelayanan ritual penyucian umat manusia dengan air yang telah didoakan (Tirtha) sehingga badan, pikiran dan jiwanya bersih secara sekala dan niskala, menjadi lebih tenang, damai dan bijaksana. Mahagangga Tirtha Gamana juga sangat selaras dengan upaya manusia mewujudkan Tri Hita Karana yakni menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya) yang dilandasi dengan tresna asih.
“Umat Hindu di Bali mengimplementasikan THK melalui berbagai ritual seperti Tumpek Wariga, Tumpek Kandang, Tumpek Landep, Tumpek Wayan, Tumpek Klurut, dan Hari Raya Kuningan sesungguhnya juga Tumpek Kuningan karena jatuh pada Saniscara (Sabtu) Kliwon. Semua ritual itu tiada lain bertujuan untuk menjaga keharmonisan dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan baik secara sekala maupun niskala” imbunya.

Menurut Ida Pedanda Bang, tempat pelaksanaan Mahagangga Tirtha Gamana bisa di Bali, di areal Candi Prambanan atau di tempat-tempat suci di seluruh Nusantara. Jika kegiatan ini bisa dipimpin oleh 1000 sulinggih (minimal 33 Sulinggih), dan air sucinya diambil dari seluruh tempat-tempat suci di Nusantara. Bila dipimpin oleh 1000 Sulinggih, maka vibrasinya akan sangat luar biasa. Upacara penyucian ini bisa melayani berbagai elemen masyarakat baik para eksekutif, legislatif, yudikatif yang sangat sibuk. Bila dilaksanakan pada hari libur, maka diharapkan pesertanya akan sangat banyak.
Mahagangga Tirtha Gamana, kata Ida Pedanda, juga sejalan dengan Pariwisata Budaya Bali yang mengusung budaya Bali sebagai ikon pariwisata. Event besar ini diharapkan akan mampu mendongkrak citra Bali dan menghasilkan income bagi masyarakat Bali. “Bila setiap umat Hindu di Bali mau menyucikan dirinya melalui upacara Mahagangga Tirtha Gamana, maka secara tak langsung mungkin saja ini akan mampu menekan angka bunuh diri di Bali” harapnya. Beliau juga berharap kepada pemerintah pusat dan daerah, pengurus PHDI seluruh Indonesia dan semua tokoh Hindu baik di seluruh Nusantara agar mendukung kegiatan yang sejalan dengan konsep THK ini. “Saya minta kepada para Pandita, pinandita, pengurus PHDI se Indonesia dan seluruh tokoh Hindu untuk merapatkan barisan untuk mewujudkan gagasan mulia yang bisa menyatukan dan merangkul semua komponen ini” harapnya.
Jika pelaksanaan Mahagangga Tirtha Gamana dikaitkan dengan Mahasiwaratri di Candi Prambanan, menurut Ida Pedanda, akan sangat bagus bila digelar di Candi Prambanan sehingga diharapkan menjadi ikon Ritual Penyucian Umat Nusantara. Upakara (sesajennya) disesuaikan dengan kearifan lokal setempat (ram).