Bali, Indonesia – Center for Dharmic Studies (CDS) kembali menggelar Webinar Seri #008 bertajuk “Tantra di Nusantara: Sejarah, Filosofi & Prakteknya” pada Jumat, 20 Pebruari 2026, pukul 14.00–16.00 Wita melalui ruang virtual. Diskusi ini menghadirkan narasumber Putu Yudiantara (Penulis Bali Wisdom) yang juga dosen UNHI Denpasar dengan moderator Dr. W.A. Sindhu Gitananda, S.S, M.Hum (Dosen UNHI & Peneliti CDS).
Webinar dibuka dengan pembahasan mendasar mengenai komentar Bhatta terhadap Manawa Dharmasastra II.1, yang menyatakan bahwa sruti sejatinya tidak tunggal. Dalam perspektif tersebut, sruti memiliki dua dimensi: yang bersifat vaidika dan yang bersifat tantrika. Pemaparan ini menjadi pintu masuk penting untuk memahami bahwa otoritas spiritual dalam tradisi Dharmika (Hinduism) tidak hanya bertumpu pada korpus Veda yang selama dipahami, tetapi juga mencakup wahyu dan tradisi tekstual yang berkembang dalam korpus tantrika. Oleh karena itu, Tantra pada prinsipnya tidak berada di luar kerangka sakralitas, melainkan hadir sebagai bagian dari lanskap teologis dan epistemologis yang sah.
Tantra dalam Kerangka Sejarah dan Teks
Menurut Yudiantara, secara tekstual awal, Tantra merujuk pada kitab-kitab Saiva dan Sakta, yang sering dikategorikan sebagai extra-vaidika (di luar korpus Veda formal). Namun istilah “di luar” tidak berarti terpisah, melainkan berkembang sebagai inovasi spiritual dan teologis yang memperkaya khazanah Dharmika.
Tantra secara pokok berbicara tentang tattva (realitas ontologis) dan mantra. Menurut Yudiantara, tujuan utama disiplin tantrik adalah penyelamatan dan pencapaian realitas tertinggi. Dalam konteks ini, Tantra dipahami Yudiantara sebagai bentuk “sonic theology”, yakni teologi berbasis mantra, aksara, dst., di mana medium-medium yang digunakan bukan sekadar simbol, melainkan sarana transformasi kesadaran. Karena sentralnya peran aksara dan matra, kata dia, Tantra juga sering disebut sebagai mantra sastra, sebuah disiplin yang menempatkan struktur fonetik dan kosmologi mantra sebagai inti praksis spiritual.
Perkembangan Historis
Yudiantara merunut sejarah perkembangan Tantra. Secara historis, tradisi Tantra mulai berkembang sekitar abad ke-5 Masehi dan mencapai puncaknya pada abad ke-8 hingga ke-12 Masehi. Pada periode ini muncul inovasi konseptual yang signifikan, terutama gagasan tentang “tubuh mistis” sebagai medium realisasi spiritual. Fase ini menandai kematangan Tantra sebagai sistem filosofis sekaligus praktek ritual yang kompleks dan terstruktur. “Pengaruhnya kemudian menyebar luas ke Asia Selatan hingga Asia Tenggara, termasuk Nusantara yang banyak menerima pengaruh tradisi Siddhanta Saiva, dan membentuk warna spiritualitas lokal dalam berbagai ekspresi budaya dan ritual” jelasnya.
Pendekatan Kritis dalam Memahami Tantra
Dalam konteks kekinian, Yudiantara menekankan pentingnya pendekatan kritis (nyeleneh) dalam memahami Tantra, yakni melalui proses: 1. Demistifikasi; 2. Deromantasisasi; 3. Rekontekstualisasi; 4. Rekonstruksi; 5. Retekstualisasi dan 5. Re-agamaisasi. Kata Yudiantara, langkah-langkah ini diperlukan agar Tantra tidak dipahami secara simplistik sebagai ajaran magis atau eksotik, melainkan sebagai disiplin intelektual-spiritual yang memiliki kedalaman historis dan filosofis.
Ruang Dialog dan Refleksi
Webinar ini menjadi ruang reflektif bagi peserta untuk melihat kembali posisi Tantra dalam sejarah spiritual Nusantara. Diskusi berjalan dinamis dengan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar legitimasi tekstual, praktek ritual, serta relevansi Tantra dalam kehidupan kontemporer.
Seiring dengan harapan para peserta, Center for Dharmic Studies berharap seri diskusi ini dapat memperkaya literasi keagamaan dan mendorong pendekatan akademis yang lebih terbuka terhadap khazanah studi Dharmika di Nusantara. Bahkan, seorag peserta berharap agar diskusi rentang Tantra ini lebih dinurut pada sub-sub topik sehingga pemahaman masyarakat tentang Tantra menjadi lebih lengkap dan komprehensif (r/ram).