INDIA – Dalam suasana sakral yang menyelimuti kota suci Vrindavan, dunia yoga internasional menyaksikan momen istimewa ketika tokoh spiritual asal Bali, Ida Rsi Putra Manuaba, yang dikenal luas sebagai Agus Indra Udayana, tampil sebagai Chief Guest sekaligus pembicara utama pada pembukaan International Yoga Festival Vrindawan 2026 pada 27 Pebruari 2026 di Vrindawan, India. Kehadiran beliau tidak hanya menjadi sorotan karena reputasi internasionalnya, tetapi juga karena pesan universal yang dibawanya: menjadikan yoga sebagai jembatan harmoni lintas budaya dan bangsa. Festival ini dihadiri oleh ratusan guru yoga, praktisi, peneliti spiritual, dan pencari makna hidup dari berbagai belahan dunia, menjadikannya ruang dialog global tentang kesadaran, kesehatan holistik, dan masa depan spiritualitas manusia.

Dalam pidato bertajuk “Balinese Spiritual Wisdom: Living Harmony in a Modern World,” Ida Rsi Putra Manuaba menyampaikan refleksi mendalam tentang makna yoga yang melampaui dimensi fisik. Menurutnya, yoga bukan sekadar latihan tubuh atau tren gaya hidup modern, melainkan jalan kesadaran yang menuntun manusia kembali pada keselarasan batin. Ia kemudian memperkenalkan filosofi luhur Bali, Tri Hita Karana, sebagai kontribusi nyata Nusantara bagi peradaban dunia. Filosofi ini menekankan tiga pilar keseimbangan hidup: harmoni dengan Tuhan, harmoni dengan sesama manusia, dan harmoni dengan alam semesta. Melalui penjelasan yang hangat dan reflektif, beliau menggambarkan bagaimana nilai-nilai tersebut hidup dalam keseharian masyarakat Bali, dari tradisi doa pagi hingga praktek persembahan sederhana yang sarat makna spiritual.
Lebih jauh, Ida Rsi Putra Manuaba mengaitkan praktek keseharian tersebut dengan ajaran Karma Yoga dalam Bhagavad Gita, yakni bekerja dengan ketulusan tanpa keterikatan pada hasil. Dalam pandangannya, dunia modern yang sarat tekanan dan kompetisi membutuhkan paradigma baru: menjadikan hidup sebagai persembahan. “Ketika hidup menjadi persembahan, kecemasan berkurang. Ketika tindakan menjadi doa, ego melembut,” ungkapnya, disambut keheningan penuh makna dari para peserta yang larut dalam suasana kontemplatif. Pesan ini menjadi resonansi kuat di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap kesehatan mental dan pencarian makna hidup yang lebih dalam.
Tidak berhenti pada dimensi spiritual personal, beliau juga mengangkat isu ekologis sebagai bagian tak terpisahkan dari praktek Yoga. Menyoroti sistem irigasi tradisional Bali, Subak, beliau menunjukkan bagaimana spiritualitas dapat terwujud dalam tata kelola lingkungan yang adil dan berkelanjutan. Dalam sistem tersebut, air tidak hanya dipandang sebagai sumber daya, tetapi sebagai berkah suci yang harus dijaga bersama. Analogi yang beliau sampaikan—bahwa sungai adalah prana bagi bumi sebagaimana napas bagi tubuh manusia—menjadi pengingat kuat bahwa praktek spiritual tanpa tanggung jawab ekologis adalah paradoks. Pesan ini relevan di tengah krisis iklim global yang menuntut pendekatan berbasis kesadaran, bukan sekadar teknologi.
Taksu Lahir dari Ketulusan, Disiplin dan Pengabdian
Dalam bagian reflektif lainnya, beliau memperkenalkan konsep Taksu, yakni pancaran karisma spiritual yang lahir dari ketulusan, disiplin, dan keselarasan dengan kehendak Ilahi. Menurutnya, Taksu tidak dapat dikejar melalui teknik semata, tetapi hadir ketika praktek dilandasi kejujuran bathin dan pengabdian. Gagasan ini menjadi ajakan bagi komunitas yoga global untuk kembali pada esensi bahwa kedalaman spiritual lahir dari kualitas hati, bukan sekadar performa luar (penampilan).
Sebagai pendiri Ashram Gandhi Puri di Bali, Ida Rsi Putra Manuaba selama ini dikenal konsisten membangun ruang dialog lintas budaya melalui pendidikan spiritual, pengabdian sosial, dan pemberdayaan generasi muda. Kehadirannya di panggung internasional ini kembali menegaskan peran Bali sebagai pusat kebijaksanaan spiritual dunia. Melalui pesan yang mengalir tenang namun kuat, beliau tidak hanya mewakili Indonesia, tetapi juga menghadirkan narasi bahwa harmoni bukan sekadar idealisme, melainkan jalan hidup yang dapat dipraktekkan- menenun kesadaran dari Bali ke Bharat, dan dari Bharat untuk dunia.
Menutup sambutannya, beliau mengajak dunia untuk memperkuat kembali jembatan spiritual antara Indonesia dan India, dua peradaban tua yang telah terhubung selama berabad-abad melalui nilai dharma, kisah epik, dan pertukaran budaya. Ia menegaskan bahwa masa depan spiritualitas dunia tidak dibangun melalui kompetisi, melainkan kolaborasi lintas tradisi. Seruan people to people, culture to culture, heart to heart menjadi pesan penutup yang menggugah, menandai semangat baru dalam diplomasi spiritual global (*/Dik/Ram).