Catatan dari Lingkar Studi CDS #9
Genealogi Nyepi : Dari Ramya Menuju Sunya

Budayawan I Wayan Westa Bahas Genealogi Nyepi : Dulu dan Kini, dari Ramya ke Sunya

Hari Raya Nyepi tak dapat hanya dipahami sebatas perayaan Tahun Baru Saka atau hari libur hari raya keagamaan. Nyepi merupakan praktek spiritual yang berakar pada konsep Ṛta, yakni hukum keteraturan kosmis yang mengatur harmoni antara manusia, alam, dan semesta. Konsep tersebut kemudian terwujud dalam berbagai sistem pengetahuan tradisional Hindu di Nusantara, khususnya yang telah dipraktekkan sejak jaman dahulu hingga saat ini di Bali. Nyepi juga ditetapkan oleh sistem kalender yang memadukan Surya Pramana (matahari), Candra Pramana (bulan), dan sistem Wuku. Perpaduan ketiga sistem ini membentuk kalender Saka Bali yang tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga sebagai pedoman dalam berbagai praktek ritual dan kehidupan sosial masyarakatnya.

Hal itu dipaparkan oleh Drs. I Wayan Westa, budayawan sekaligus penulis, saat menjadi narasumber utama, pada Lingkar Studi Seri #009 dengan tema “Genealogi Nyepi: Dulu dan Kini.” yang digelar Center for Dharmic Studies (CDS) bekerja sama dengan Binroh Hindu Telkom Group beberapa hari menjelang Nyepi. Diskusi yang berlangsung secara daring ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pemerhati budaya dan tradisi Hindu, mahasiswa, hingga kalangan pegawai Telkom dan BUMN se-Indonesia.

Diskusi yang dipandu I Putu Aryawan, S.E, M.Sos ini berlangsung hangat dan interaktif, mengulas tidak hanya aspek filosofis Nyepi, tetapi juga dinamika sosial yang mengiringi perayaan tersebut dalam konteks masyarakat Hindu di Indonesia saat ini.

Secara tekstual, perayaan Nyepi juga memiliki landasan dalam berbagai lontar tradisional yang ditemukan di Bali, seperti Sundarigama, Wariga Krimping, dan Aji Swamandala, yang menjelaskan tata waktu ritual, perhitungan kalender, serta prinsip kosmologis yang melandasi praktek keagamaan masyarakat Hindu di Bali. Dalam teks-teks tersebut, penataan waktu ritual tidak hanya bersifat astronomis, tetapi juga mencerminkan upaya menjaga keselarasan antara kehidupan manusia dan tatanan kosmis.

I Wayan Westa mengulas tuntas tahapan-tahapan ritual yang mengiringi perayaan Nyepi, mulai dari Melasti, Tawur Kesanga, Pangrupukan (Tawur Kasanga), hingga puncak Nyepi yakni Catur Brata Penyepian. Dalam perspektif filosofis, rangkaian ini perlu dipahami sebagai perjalanan spiritual dari Ramya (keramaian dunia) menuju Sunya (keheningan sejati), sebuah proses refleksi bathin yang memungkinkan manusia (bhuwana alit) untuk menata kembali hubungan dirinya dengan alam semesta (bhuwana agung).

Diskusi juga menyinggung dinamika sosial yang belakangan ramai diperbincangkan umat Hindu, khususnya di Bali, dan sekaligus menjadi perhatian masyarakat Hindu di wilayah lainnya di Indonesia, yaitu polemik yang muncul ketika perayaan Nyepi berdekatan Hari Raya Idul Fitri. Hal ini memunculkan kemungkinan pelaksanaan malam takbiran yang bersamaan dengan Hari Raya Nyepi, 19 Maret 2026. Isu ini memicu sempat perdebatan publik setelah adanya seruan bersama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali yang tidak menyertakan unsur PHDI yang sah. Isu ini kemudian direspons oleh berbagai pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan Hindu bahkan menjadi perhatian Menteri Agama RI.

Perdebatan tersebut muncul setelah adanya seruan bersama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali yang mencoba mengatur pelaksanaan kedua perayaan keagamaan tersebut agar tetap berjalan harmonis. Namun, kebijakan ini memunculkan beragam respons (protes keras) dari kalangan masyarakat Bali, termasuk dari sejumlah organisasi kemasyarakatan Hindu yang menilai bahwa pengaturan tersebut perlu mempertimbangkan secara lebih mendalam makna sakral Catur Brata Penyepian, yang menekankan pentingnya keheningan selama Nyepi. Pada prinsipnya, berbagai pihak pada akhirnya perlu menekankan pentingnya dialog dan saling menghormati agar kedua perayaan keagamaan tersebut dapat berlangsung dengan tetap menjaga keharmonisan antarumat beragama.

Selain mengulas dinamika yang terjadi menjelang Hari Raya Nyepi, I Wayan Westa mengajak kita jangan lupa akan pentingnya memperdalam pemahaman filosofis mengenai Nyepi, sehingga Nyepi tidak sekedar dipahami sebagai seperangkat aturan sosial tentang keheningan, melainkan sebagai praktek spiritual yang mendorong refleksi diri, pengendalian bathin, dan pemulihan keseimbangan antara manusia dan alam. Lingkar Studi CDS ini diharapkan dapat terus menjadi ruang dialog intelektual yang memperkaya pemahaman masyarakat terhadap tradisi Hindu, sekaligus membuka ruang refleksi terhadap relevansi nilai-nilai spiritual dalam dinamika kehidupan kontemporer (r/ram).

#Nyepi

#budayabali

#Ogoh-ogoh

#Caturbrata

#Baliduludankini

 

Share :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email