Catatan : I Nyoman Keramas, S.E, M.M
Kalau kita ingat masa-masa lalu, pengelolaan desa pada masa jauh sebelum era digital sesungguhnya sangat amat sederhana. Administrasi desa ditulis dengan tangan, surat-menyurat memakai mesin ketik atau tulisan tangan. Data disimpan di lemari arsip, dan semua dikerjakan secara manual. Tingkat pendidikan para pegawai desa dan masyarakat rata-rata juga tidak setinggi sekarang. Cara berpikir saat itu masih sederhana dan konvensional. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan dan menjadi kenangan kita : desa terasa lebih damai.
Di desa yang damai, masyarakat hidup dengan ritme yang pelan, jauh dari terburu-buru. Pintu rumah jarang dikunci rapat. Tetangga bukan sekadar orang yang tinggal di sebelah rumah, tetapi saudara yang siap membantu kapan saja. Musyawarah lebih sering menghasilkan mufakat daripada pertengkaran. Orang saling percaya, saling menghormati, saling mengingatkan bahkan dan saling menjaga.
Kehidupan beragama pun berlangsung dengan sangat sederhana. Tempat ibadah mungkin tidak semegah sekarang, pakaian keagamaan tidak semewah sekarang, dan kegiatan ritual tidak semeriah dan sebanyak sekarang. Namun, nilai-nilai kejujuran, rasa malu, gotong royong, kerjasama dan kepedulian kepada sesama benar-benar “hidup” dalam keseharian.
Kini jaman telah berubah sangat cepat. Teknologi digital membawa kemudahan luar biasa. Informasi bergerak dalam hitungan detik, pelayanan publik semakin cepat, komunikasi tanpa batas (borderless), dan pengetahuan dan teknologi terbuka lebar, bisa diakses di mana pun. Semua itu adalah kemajuan yang patut disyukuri.
Namun di balik semua kemajuan teknologi itu, muncul ironi dan paradoks yang patut kita renungkan bersama.
Kita semakin pintar, tetapi semakin sulit mendengar.
Kita semakin banyak teman di media sosial, tetapi semakin sedikit sahabat yang benar-benar peduli.
Kita semakin sibuk mengejar kehidupan, tetapi semakin lupa menikmati kehidupan.
Kita semakin rajin memotret kebahagiaan, tetapi semakin jarang merasakan kebahagiaan itu sendiri.
Kehidupan beragama juga tampak semakin meriah. Tempat ibadah semakin megah. Upacara semakin besar. Kegiatan keagamaan semakin padat. Media sosial dipenuhi kutipan-kutipan bijak dan dokumentasi ritual serta publikasi yang viral.
Namun pertanyaannya sederhana: apakah hati kita juga semakin damai?
Harapan kita semua :
Jangan sampai agama hanya ramai di panggung, tetapi sepi dalam perilaku.
Jangan sampai spiritualitas hanya tampak dalam pakaian, tetapi tidak hadir dalam kejujuran.
Jangan sampai ritual semakin panjang, tetapi kesabaran semakin pendek.
Jangan sampai doa semakin sering dipanjatkan, tetapi kepedulian kepada sesama semakin menghilang.
Hari ini : hampir semua hal diukur dengan angka: berapa penghasilan, berapa aset, berapa pengikut media sosial, berapa kendaraan, berapa proyek, berapa jabatan. Seolah-olah nilai manusia ditentukan oleh apa yang dimiliki, bukan oleh siapa dirinya.
Akibatnya, dunia terasa semakin sesak. Waktu tidak pernah cukup. Pekerjaan tidak pernah selesai. Persaingan tidak pernah berhenti. Semua orang sibuk mengejar sesuatu yang sering kali tidak pernah benar-benar membuatnya puas.
Padahal, mesti kita ingat :
kebahagiaan bukan hanya soal kecepatan, melainkan soal keseimbangan.
Kemajuan teknologi seharusnya mempermudah hidup, bukan memperumit hati.
Digitalisasi seharusnya mempercepat pelayanan, bukan mempercepat permusuhan.
Modernisasi seharusnya meningkatkan kesejahteraan, bukan menghilangkan kemanusiaan.
Desa masa depan tentu tidak mungkin kembali ke jaman dulu. Teknologi harus diterima. Digitalisasi harus dijalankan. Pendidikan harus terus ditingkatkan.
Tetapi ada warisan yang jangan pernah sampai hilang dari desa-desa kita: kejujuran, gotong royong, rasa malu ketika berbuat salah, kepedulian kepada sesama, kesederhanaan, dan kedamaian bathin.
Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah desa bukan hanya diukur dari cepatnya internet, megahnya kantor desa, atau banyaknya aplikasi yang digunakan.
Kemajuan desa yang sesungguhnya adalah ketika teknologi berkembang, tetapi manusianya tetap beradab; ritual semakin ramai bahkan berbiaya tinggi, tetapi hati semakin rendah; ekonomi semakin maju, tetapi persaudaraan tetap terjaga.
Sebab desa yang kehilangan kemanusiaannya, walaupun penuh sinyal 5G, sesungguhnya sedang mengalami “blank spot” dalam nurani. Semoga kita sadar, kemajuan jangan sampai melenyapkan persaudaraan. Kemajuan jangan sampai menghilangkan penyamabrayan (*).