Renungan Kita Hari ini : Beragama, Berbudaya, dan Menjadi Manusia
Refleksi Kehidupan Masyarakat Diera Modern

I Nyoman Keramas, S.E, M.M, Akademisi dan Pengusaha Sukses

Oleh : I Nyoman Keramas, S.E, M.M

 

Perkembangan jaman telah membawa manusia pada kemajuan yang luar biasa. Teknologi berkembang pesat, informasi mengalir tanpa batas, pendidikan semakin tinggi, dan berbagai kemudahan hadir dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik semua kemajuan tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: Apakah kualitas kemanusiaan kita ikut bertumbuh seiring kemajuan jaman?

Ada sebuah pandangan menarik untuk direnungkan, yaitu bahwa beragama merupakan cara manusia menunjukkan dirinya bertuhan, sedangkan menjalankan adat istiadat merupakan cara manusia mempraktekkan nilai-nilai agamanya dalam kehidupan bermasyarakat. Agama memberikan arah vertikal hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan adat dan budaya menjadi jembatan horizontal yang menghubungkan manusia dengan sesamanya.

Pada masa lalu, kehidupan masyarakat mungkin jauh lebih sederhana. Pengetahuan belum seluas sekarang, teknologi belum secanggih hari ini, dan fasilitas hidup sangat terbatas. Namun, di banyak tempat, masyarakat hidup dengan rasa kebersamaan yang tinggi. Gotong royong bukan sekadar slogan, tetapi menjadi kebiasaan. Tetangga merasa memiliki tetangganya, keluarga besar menjadi tempat berteduh, dan setiap persoalan diselesaikan melalui musyawarah.

Masyarakat dahulu mungkin tidak banyak berbicara tentang toleransi, tetapi mereka mempraktekkannya. Mereka tidak sering mengunggah aktivitas keagamaan, tetapi nilai-nilai agama hadir dalam sikap sehari-hari: menghormati orang tua, menyayangi tetangga, membantu yang kesusahan, menjaga ucapan, dan menepati janji.

Sebaliknya, di era modern ini, kita menyaksikan fenomena yang unik. Ekspresi keberagamaan semakin tampak di ruang publik. Rumah ibadah semakin megah, kajian keagamaan semakin banyak, media sosial dipenuhi kutipan-kutipan bijak, dan simbol-simbol religius semakin mudah dijumpai. Semua itu tentu merupakan perkembangan yang patut diapresiasi.

Namun, di sisi lain, muncul paradoks yang mengundang renungan. Mengapa di tengah meningkatnya ekspresi keagamaan, kita masih sering menyaksikan menurunnya kepedulian sosial? Mengapa masyarakat semakin mudah menghakimi tetapi semakin sulit memahami? Mengapa orang begitu cepat menunjukkan kesalehan di depan publik, tetapi kadang lambat menunjukkan keramahan kepada tetangga?

Barangkali persoalannya bukan pada agama, melainkan pada cara manusia memaknainya. Tidak sedikit orang yang sibuk mempertahankan simbol, tetapi lupa menjaga substansi. Semangat memperlihatkan identitas kadang lebih besar daripada semangat memperbaiki akhlak. Akibatnya, agama yang seharusnya menghadirkan ketenangan justru sesekali dijadikan alat pembeda, bahkan pemisah bahkan memicu pertentangan.

Adat istiadat yang dahulu menjadi ruang belajar tentang sopan-santun, tenggang rasa, dan kebersamaan juga perlahan mulai bergeser. Banyak tradisi dipandang sekadar seremoni, padahal di dalamnya tersimpan nilai pendidikan karakter yang diwariskan turun-temurun. Ketika adat kehilangan ruhnya, dan agama hanya dipahami sebagai ritual, maka yang tersisa hanyalah formalitas tanpa kedalaman makna.

Media sosial turut memberi warna baru dalam kehidupan. Kita hidup dalam budaya “terlihat”, bukan selalu “menjadi”. Kebaikan terkadang lebih sibuk dipublikasikan daripada dilakukan secara tulus. Perdebatan lebih mudah viral dibandingkan keteladanan. Tidak jarang seseorang merasa cukup menjadi manusia baik di layar telepon genggam, tetapi lupa menjadi manusia baik di ruang keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Kemajuan teknologi memang mendekatkan manusia melalui jaringan internet, tetapi belum tentu mendekatkan hati. Kita mengetahui khabar orang di belahan dunia lain, namun terkadang tidak mengetahui keadaan tetangga di sebelah rumah. Kita memiliki ribuan pertemanan di media sosial, tetapi kehilangan waktu untuk bercengkerama dengan keluarga sendiri.

Padahal inti semua ajaran agama sesungguhnya sederhana: memuliakan Tuhan dengan cara memuliakan ciptaan-Nya. Tidak ada kesalehan yang utuh apabila hubungan dengan Tuhan baik, tetapi hubungan dengan sesama manusia rusak. Demikian pula, adat istiadat yang luhur selalu mengajarkan hormat, malu berbuat salah, rendah hati, serta menjaga keharmonisan hidup bersama.

Karena itu, masyarakat modern tidak memerlukan lebih banyak simbol, melainkan lebih banyak keteladanan. Tidak memerlukan lebih banyak perdebatan, melainkan lebih banyak kepedulian. Tidak memerlukan lebih banyak pencitraan, melainkan lebih banyak kejujuran.

Ukuran keberagamaan yang sesungguhnya bukanlah seberapa sering seseorang berbicara tentang Tuhan, tetapi seberapa besar kehadiran Tuhan tercermin dalam perilakunya. Dan ukuran keberhasilan adat-istiadat bukanlah seberapa meriah upacaranya, melainkan seberapa kuat nilai-nilai kemanusiaan hidup dalam keseharian masyarakat.

Pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari tingginya gedung, canggihnya teknologi, atau hebatnya kecerdasan. Kemajuan sejati diukur dari kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara iman, budaya, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan. Sebab manusia yang benar-benar beragama bukan hanya pandai beribadah, melainkan juga mampu menghadirkan kedamaian, keadilan, kasih sayang, dan keteladanan bagi sesamanya.

Agama tanpa akhlak akan kehilangan cahaya. Adat tanpa nilai akan kehilangan jiwa. Dan kemajuan tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan peradaban yang maju secara teknologi, tetapi miskin secara nurani. Semoga pikiran-pikiran baik datang dari segala penjuru (*).

Share :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email