Oleh: Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd.
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali
Tidak ada seorang ayah yang bercita-cita menjadi orang yang dipandang rendah oleh masyarakat. Tidak ada seorang ayah yang bangun pagi hari dengan keinginan untuk mengecewakan anak-anaknya. Namun faktanya, kehidupan tidak selalu berjalan sebagaimana harapan. Tatkala kemiskinan, tekanan hidup, dan keputusasaan mempersempit ruang berpikir seseorang hingga jalan yang dipilih berubah menjadi sebuah kesalahan. Kasus pencurian ayam yang beberapa waktu di Baturiti, Tabanan Bali beberapa waktu lalu menyayat hati masyarakat berujung tragedi, bukan hanya meninggalkan cerita tentang pelanggaran hukum. Peristiwa itu juga membuka luka yang lebih dalam: hilangnya empati di tengah ledakan emosi sesaat. Ketika seseorang telah melakukan kesalahan, sebagian orang merasa memiliki hak untuk menghakimi tanpa batas, seolah-olah martabat kemanusiaannya telah lenyap bersama kesalahannya. Padahal, sebelum ia menjadi seorang pelaku, ia adalah seorang ayah bagi anak-anak yang sangat ia sayangi.
Ayah yang setiap pagi berangkat membawa harapan agar dapur tetap mengepul. Ayah yang rela menyembunyikan rasa lapar agar anaknya tetap dapat makan. Ayah yang tidak pernah menceritakan beratnya hidup karena baginya, senyum anak adalah kekuatan terbesar untuk terus bertahan. Betapa pilunya jika seorang anak perempuan harus menyaksikan ayahnya dipermalukan di depan umum. Tangisnya bukan sekadar karena takut kehilangan sosok pelindung, melainkan karena dunia seakan merenggut kehormatan orang yang paling ia cintai.
Di mata masyarakat, mungkin ia hanyalah seorang pencuri. Namun di mata putrinya, ia tetap seorang ayah. Ayah, ibarat seorang “pahlawan” yang pernah menggendongnya ketika sakit, mengajarinya berjalan, menemaninya tertawa, dan memeluknya ketika dunia terasa menakutkan.
Dalam ajaran Hindu, setiap manusia wajib menjunjung tinggi Asteya, yaitu tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Asteya merupakan salah satu bagian dari Yama Brata, pengendalian diri yang menjadi landasan moral kehidupan. Karena itu, mencuri tetaplah merupakan perbuatan yang bertentangan dengan Dharma. Namun, ajaran Hindu tidak berhenti pada penilaian terhadap kesalahan. Hindu juga mengajarkan Ahimsa, yaitu tidak menyakiti makhluk lain, baik melalui pikiran, perkataan, maupun tindakan.
Sering kali kita begitu bersemangat mengecam pelanggaran Asteya, tetapi tanpa sadar justru melanggar Ahimsa. Kata-kata kasar, penghinaan, persekusi, bahkan kekerasan atas nama kemarahan, sesungguhnya juga merupakan bentuk Adharma. Bhagavad Gītā mengingatkan bahwa kemarahan adalah awal dari runtuhnya kebijaksanaan.
krodhād bhavati sammohaḥ
sammohāt smṛti-vibhramaḥ
smṛti-bhraṁśād buddhi-nāśo
buddhi-nāśāt praṇaśyati
(Bhagavad Gītā II.63)
“Dari kemarahan lahirlah kebingungan. Dari kebingungan hilanglah ingatan akan kebenaran. Dari hilangnya ingatan, lenyaplah kebijaksanaan. Dan ketika kebijaksanaan musnah, hancurlah kehidupan seseorang.”
Sloka ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Kemarahan yang tidak dikendalikan mampu menghapus rasa kemanusiaan. Dalam hitungan menit, seseorang dapat berubah menjadi hakim, algojo, bahkan merasa paling benar, tanpa memberi ruang bagi belas kasih. Padahal Dharma tidak pernah mengajarkan kebencian. Dharma selalu berjalan beriringan dengan keadilan dan kasih sayang.
Sarasamuccaya mengingatkan: Ikang dharma ngaran ika, hetuning mara ring swarga ika, kadi gatining prahu, an hetuning banyaga entasing tasik.(Sarasamuccaya 14). “Adapun Dharma adalah jalan menuju kebahagiaan sejati, laksana perahu yang menyeberangkan manusia melintasi lautan kehidupan.”
Perahu tidak pernah memilih siapa yang akan diseberangkan. Ia mengantarkan siapa pun menuju tepian dengan penuh kesetiaan. Begitu pula Dharma. Ia tidak mengajarkan kita membenci pelaku kesalahan, melainkan membenci kesalahannya sambil tetap menjaga harkat kemanusiaannya.
Sesungguhnya, seorang ayah adalah perwujudan Dharma dalam keluarga. Dengan kebijaksanaan ia membimbing, dengan kasih sayang ia memeluk, dan dengan pengorbanan ia mengajarkan bahwa cinta sejati adalah memberi tanpa mengharap balasan.
Karena itu, marilah kita belajar lebih bijaksana. Menegakkan hukum adalah kewajiban. Namun menjaga kemanusiaan adalah panggilan Dharma. Jangan sampai semangat menghukum justru menghilangkan welas asih yang menjadi inti ajaran Hindu.
Mungkin kita tidak pernah mengetahui seberapa berat beban yang dipikul seseorang. Kita hanya melihat satu kesalahannya, tetapi tidak melihat ribuan pengorbanan yang pernah ia lakukan demi keluarganya.
Di balik wajah yang dipenuhi penyesalan, mungkin ada seorang ayah yang hanya ingin anaknya tidak tidur dalam keadaan lapar. Di balik air mata seorang anak perempuan, ada doa yang sederhana namun begitu dalam:
“Ya Tuhan, dunia boleh menghukum ayahku karena kesalahannya. Tetapi jangan biarkan dunia kehilangan kasih sayang kepada sesama manusia.”
Sebab ketika empati hilang, sesungguhnya bukan hanya satu orang yang terluka. Namun, kita semua sedang kehilangan bagian paling luhur dari Dharma itu sendiri. Semoga Semua Mahluk Berbahagia (*).