Aplikasikan Tri Hita Karana dalam Mengelola Sampah
Prodi Doktor Ilmu Komunikasi Hindu UHN Sugriwa Turun ke Banjar Uma Sari

Suasana Pengabdian kepada Masyarakat yang digelar Prodi Doktor Ilmu Komunikasi Hindu Pascasarjana UHN IGB Sugriwa Denpasar beberapa waktu lalu

DENPASAR — Kesadaran menjaga lingkungan pada masyarakat Hindu Bali tidak cukup berhenti pada slogan. Ia harus dihayati sebagai laku, ditata dalam sistem komunikasi komunitas, dan berpijak pada nilai-nilai Tri Hita Karana yakni menjaga keharmonisan hubungan antara Mansia-Tuhan (Parhyangan), sesama manusia (Pawongan), dan manusia-alam (Palemahan). Semangat itulah yang mengalir dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Doktor Ilmu Komunikasi Hindu, Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, yang berlangsung selama tiga hari, 29–31 Mei 2026 di Banjar Uma Sari, Desa Ubung Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar.

Mahasiswa Prodi Doktor Ilmu Komunikasi UHN Sugriwa Bersama Tokoh Masyarakat Br. Uma Sari, Ubung Kaja

Kegiatan bertajuk “Model Komunikasi Holistik dalam Sistem Pengelolaan Sampah di Kota Denpasar” ini digagas sebagai upaya membumikan filosofi Tri Hita Karana dalam praktek pengelolaan sampah berbasis sumber di tingkat banjar. Sekitar 30 orang warga Banjar Uma Sari, aparat banjar, tokoh lingkungan, dosen, dan mahasiswa terlibat aktif sepanjang rangkaian program.

Ketua Pelaksana, Dr. I Made Arsa Wiguna, SST.Par., M.Pd.H, menyampaikan bahwa persoalan sampah di perkotaan Bali tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis semata. Diperlukan perubahan pola pikir dan perilaku yang ditopang oleh sistem komunikasi yang holistik. “Sampah bukan sekadar residu kehidupan sehari-hari, tetapi cerminan dari cara kita memaknai hubungan dengan alam. Ketika palemahan diabaikan, sesungguhnya keseimbangan parahyangan dan pawongan pun ikut goyah,” ujar Arsa Wiguna saat memberikan pengantar dalam seremoni pembukaan kegiatan.

Kaprodi Dr. I Made Arsa Wiguna, Sst. Par., M.Pd.H bersama para mahasiswa angkatan ke-2  Prodi Ilmu Komunikasi Hindu UHN Sugriwa Denpasar

Kolaborasi Akademisi, Praktisi dan Komunitas

Hari pertama, peserta mendapatkan pemaparan Konsep Dasar Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber dari Ir. Nyoman Mahardika, M.I.Kom, praktisi dan pemerhati lingkungan sekaligus aktivis BumiKita. Materi ini membekali warga banjar dengan pemahaman jenis dan karakteristik sampah, penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), serta pentingnya pemilahan sejak dari dapur masing-masing keluarga.

Kaprodi I Made Arsa Wiguna menyerahkan piagam penghargaan kepada narasumber yang juga aktivis lingkungan BumiKita, Ir. Nyoman Mahardika, M.I.Kom

Hari kedua, Sabtu (30/5), sesi berlanjut dengan pemaparan Konsep Strategi Komunikasi Sistemik oleh I Made Widiantara, S.Psi., M.Si, mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Hindu UHN IGB Sugriwa Denpasar. Widiantara menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah komunitas ditentukan oleh sejauh mana komunikasi lingkungan tertata secara sistemik dari rapat (paruman) banjar, grup WhatsApp warga, hingga papan informasi di pos-pos ronda. “Komunikasi lingkungan yang efektif tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi mampu membangun kesamaan persepsi dan menggerakkan aksi kolektif. Di sinilah nilai pawongan menemukan wujudnya yang paling nyata” papar Widiantara.

Puncak kegiatan pada hari terakhir menghadirkan simpulan Model Komunikasi Holistik dalam Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber yang mengintegrasikan tiga dimensi Tri Hita Karana: menjaga lingkungan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Parhyangan), memperkuat kolaborasi antarwarga (Pawongan), dan mewujudkan kepedulian melalui aksi nyata terhadap alam (Palemahan).

Perubahan Nyata Terukur

Evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan hasil yang menggembirakan. Rata-rata nilai pengetahuan peserta melonjak dari 61,8 menjadi  87,6  atau meningkat sekitar 41,7 persen. Sebanyak 85 % peserta mengalami peningkatan pemahaman, sementara 90 % menyatakan komitmen untuk memilah sampah dari rumah dan mengajak keluarga melakukan hal yang sama. Tingkat kehadiran mencapai 95 % dengan keaktifan diskusi dan praktek di angka 90 persen.

Lokasi kegiatan bertepatan dengan lokasi TPS3R Uma Asri di Jalan Cargo Kenanga, Desa Ubung Kaja, sebuah fasilitas pengelolaan sampah berbasis 3R yang menjadi laboratorium hidup bagi warga setempat untuk mempraktekkan pemilahan dan pengolahan sampah organik maupun anorganik.

Kaprodi I Made Arsa Wiguna menyerahkan piagam penghargaan kepada narasumber yang juga mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Hindu UHN IGB Sugriwa, I Made Widiantara, S.Psi, M.Si.

Menjaga Ibu Pertiwi, Menjaga Kesucian Diri

Kegiatan ini bukan sekadar pemenuhan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bagi Program Doktor Ilmu Komunikasi Hindu UHN IGB Sugriwa Denpasar, PkM ini adalah bentuk seva yaitu pelayanan tulus kepada masyarakat sekaligus penegasan bahwa nilai-nilai kearifan lokal Bali memiliki daya jelajah yang jauh melampaui ranah ritual. Tri Hita Karana adalah kerangka etis-ekologis yang relevan untuk menjawab tantangan urban Bali hari ini: dari sampah rumah tangga hingga krisis iklim.

Sebagaimana pesan spiritual yang tersirat dalam ajaran Weda, menjaga palemahan pada hakikatnya adalah menjaga Ibu Pertiwi dan menjaga Ibu Pertiwi adalah bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga kesucian diri di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Program ini juga menghasilkan luaran akademik berupa artikel ilmiah yang telah diterima untuk dipublikasikan pada Jurnal Wigneswara (ISSN 3047-0196) Vol. 4 No. 1 – 2026, serta media edukasi berupa poster alur pengelolaan sampah TPS3R yang dipasang di ruang publik Banjar Uma Sari  sebagai pengingat harian bagi seluruh warga. Mulai dari diri-sendiri, mulai dari rumah, untuk lingkungan yang lebih baik. Komitmen ini sejalan dengan slogan Padas (Palemahan Kedas) yang digencarkan oleh Pemerintah Provinsi Bali. Sampahku Tanggung jawabku, Sampahmu Tanggung jawabmu, Sampah Kita Tanggung Jawab Kita.  Desaku Bersih, Tanpa Mengotori Desa Lain.  Semoga langkah kecil dari Banjar Uma Sari menjadi cahaya kecil yang menyala di seantero Bali (ram).

Share :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email