KEDASIH (Kelompok Diskusi Asyik Intelektual Hindu) Bali Utara kembali digelar. Kali ini mengangkat tema “Entrepreneur Hindu Dalam Persaingan Nilai, Regulasi, dan Pasar”. Diskusi menghadirkan dua narasumber yang kompeten dibidang akademik dan kebijakan publik untuk membedah tantangan serta peluang wirausaha berbasis Hindu. Diskusi yang digelar di Wantilan Pura Agung Jagatnatha, Kota Singaraja, Senin 16/2/2026 dihadiri 50 orang peserta dari kalangan mahasiswa dan pelajar di Buleleng.
Narasumber pertama, Ida Bhawati Ketut Agus Nova, S.Fil.H, M.Ag, dosen Institut Mpu Kuturan, menekankan pentingnya generasi muda Hindu menyikapi praktek bisnis banten dan sarana upacara secara bijak dan bertanggung jawab. Menurutnya, aktivitas ekonomi dalam penyediaan sarana upacara tidak semata-mata berorientasi keuntungan, tetapi harus disesuaikan dengan sastra dan Hindu. Menurutnya, anak muda memiliki peran strategis dalam menjaga kesucian makna banten dan perlengkapan upacara di tengah arus komersialisasi dan komodifikasi sarana upacara. “Nilai tattwa, etika, dan estetika dalam Hindu harus tetap menjadi dasar dalam setiap proses produksi dan distribusi sarana upacara. Jangan sampai nilai spiritual tergerus oleh persaingan pasar,” ujarnya. Dengan pemahaman sastra agama yang kuat, generasi muda diharapkan mampu menjadi entrepreneur Hindu yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berintegritas dan berlandaskan dharma.
Narasumber kedua, Ida Gede Komang Kresna Budi, yag juga Wakil Ketua II DPRD Provinsi Bali, menyoroti pentingnya penguatan produk lokal di tengah dinamika regulasi dan persaingan pasar. Ia mengajak masyarakat Bali untuk terus mendukung dan menggunakan produk lokal, khususnya dalam memenuhi kebutuhan upacara dan upakara. Menurutnya, perputaran ekonomi di Bali akan semakin meningkat kalau masyarakat secara konsisten membeli perlengkapan upacara langsung dari produsen lokal di Bali. “Jika masyarakat Bali menggunakan dan membeli perlengkapan upacara di daerah sendiri, maka dampaknya akan langsung dinikmati oleh pelaku UMKM, perajin, serta masyarakat Bali secara luas,” tegasnya. Kresna Budi menambahkan bahwa dukungan terhadap produk lokal merupakan bagian dari upaya menjaga kearifan lokal sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah Bali. Menurutnya, sinergi antara nilai agama, regulasi yang berpihak, serta kesadaran masyarakat dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem entrepreneur Hindu yang berdaya saing.
KEDASIH Bali Utara diharapkan mampu menjadi ruang refleksi dan penguatan komitmen bersama, khususnya bagi generasi muda Hindu untuk membangun usaha yang tetap berpegang pada nilai-nilai agama, sekaligus mampu bersaing di pasar moderen (wan).