Kasodo Tengger, Tradisi yang Terpatri Uger-Uger

Catatan : I K. Budiasa, Sekretaris Umum PHDI

I K Budiasa, Sekretaris Umum PHDI

Berawal dari sebuah diskusi di Jakarta yang difasilitasi oleh Tim Integrasi dan Koordinasi Grand Design Hindu Dharma Indonesia (TIK GDHDI), kami 10 organisasi keagamaan Hindu tingkat nasional (PHDI, WHDI, Prajaniti, Peradah, KMHDI, ICHI, PSN, P3I, DHI dan Pandu Nusa) merasa perlu hadir ke Tengger, 31 Mei-1 Juni 2026  untuk menunjukkan dukungan penuh atas hidup dan tumbuh mekarnya tradisi lokal Tengger di tengah berbagai dinamika menyangkut identitas, simbol dan ritualnya. Kami percaya, memperkuat tradisi setempat adalah wujud nyata implementasi ajaran Hindu yang senantiasa memuliakan masyarakat pemilik tradisi di mana pun ajaran Hindu hadir, agar masyarakat tidak kehilangan identitas dan tercerabut dari akar budayanya.

Karena itulah, kami hadir mengikuti ritual Pujawali Pura Luhur Poten, Tengger, Minggu, 31 Mei 2026 bertepatan dengan Purnama Sada, dan dilanjutnya Yadnya Kasodo keesokan harinya, Senin 1 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, PHDI yang diwakili oleh Sekretaris Umum menegaskan, sesuai hasil Pesamuhan Sabha Pandita Tahun 2017, PHDI tidak hanya membiarkan berjalannya praktek dan tradisi lokal, tetapi lebih dari itu, secara aktif mendorong dan memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya setiap tradisi. Ini adalah pengejawantahan ajaran Weda yang universal tapi sekaligus memberi penghormatan kepada masyarakat lokal. Keagungan dan keanggunan ini adalah inti yang menjadi ciri khas ajaran Hindu. Hal yang sama kembali disampaikan dalam podcast Mandala Channel di lokasi yang sama.

Masyarakat Hindu Tengger harus bangga dengan tradisi mereka — pakaian hitam bagi pinandita, gelar “Romo Dukun” bagi Pandita, sesajen khas Tengger dan doadoa yang unik. Masyarakat Tengger berhak memiliki keduanya: Tradisi warisan leluhur mereka dan ajaran Hindu. Tidak ada pertentangan diantara keduanya, bahkan sebaliknya : yang satu memperindah, yang satu memperkaya dengan filsafat yang sublim.

Sekum PHDI, IK Budiasa (Nomor 2 dari Kanan) dalam Ritual Kasodo, Bertepatan dengan Purnama Kesada, 1 Juni 2026

Kita semua, umat Hindu dari suku mana pun, dari organisasi apa pun, harusnya tidak memiliki alasan untuk mengubah, menyeragamkan atau mengintervensi lokalitas tersebut. Sungguh, mereka sudah sangat anggun, cantik dan mulia dengan tradisinya. Kemampuan kita untuk memberi ruang bahkan memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya tradisi mereka adalah ujian seberapa kita mampu menurunkan ego menyeragamkan atas alasan apa pun.

Terima kasih kepada umat Hindu Tengger yang terus menjaga tradisinya. Selamat kepada tokoh-tokoh Hindu Tengger yang dengan tegas menuliskan dan mendeklarasikan Uger-Uger yang menjadi benteng pertahanan tradisi Tengger, khususnya Pura Luhur Poten. Tradisi Hindu Tengger adalah sumbangan luar biasa bagi keberagaman Hindu Nusantara.

PHDI, sesuai hasil Pesamuhan Sabha Pandita, berkomitmen untuk terus menjaga, mempromosikan dan memfasilitasi bagi tumbuh dan berkembangnya budaya dan tradisi lokal untuk memperindah praktek ajaran Hindu dimanapun ajaran Dharma ini hadir. (Bandara Juanda, Surabaya, Senin, 1 Juni 2026).

Share :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email