Catatan : Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd. *)
*) Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali.

Delapan puluh satu tahun Indonesia Merdeka. Merah Putih berkibar di langit, lagu Indonesia Raya menggema, upacara digelar, doa dipanjatkan. Ruang digital pun dipenuhi ucapan kemerdekaan, video perjuangan, kreativitas generasi muda, dan simbol Nasionalisme. Kita bangga menjadi bangsa yang merdeka. Pertanyaan yang lebih dalam justru muncul setelah kemeriahan itu: apakah kemerdekaan telah benar-benar membuat manusia merdeka?
Pertanyaan tersebut semakin penting ketika kita melihat wajah kehidupan hari ini. Korupsi dan Gratifikasi menggerus kepercayaan. Eksploitasi anak merampas hak tumbuh dan masa depan generasi. Narkoba membajak potensi manusia. Sampah menunjukkan lemahnya tanggung jawab terhadap lingkungan. Kasus bunuh diri dan persoalan kesehatan jiwa mengingatkan bahwa tidak semua orang merasa aman, didengar, dan memiliki harapan. Kementerian Kesehatan RI pada 9 Maret 2026 melaporkan bahwa dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining Cek Kesehatan Gratis, 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi. Data tersebut menjadi alarm bagi keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara untuk memperkuat kepedulian terhadap kesehatan jiwa generasi muda.
Kita mungkin telah merdeka dari penjajahan dalam bentuk lama. Penjajahan hari ini dapat hadir dalam bentuk yang lebih halus: manusia diperbudak keserakahan, popularitas, validasi digital, konsumsi berlebihan, kekuasaan, kebencian, atau pembenaran diri. Penjajahan tidak selalu datang membawa senjata. Kadang ia hadir melalui kalimat sederhana: “Semua orang juga melakukan.” “Tidak apa-apa, asal tidak ketahuan.” “Ini hanya sedikit.” “Yang penting saya untung.” Kalimat kecil dapat menjadi pintu bagi persoalan besar. Korupsi bermula dari kompromi terhadap kejujuran. Gratifikasi menjadi berbahaya ketika pemberian menggeser Integritas. Eksploitasi anak tumbuh ketika kepentingan orang dewasa ditempatkan di atas martabat anak. Narkoba berkembang ketika tekanan sosial dan kehilangan arah tidak diimbangi pendampingan. Sampah menjadi persoalan ketika kenyamanan pribadi dianggap lebih penting daripada kesehatan lingkungan. Era digital memperbesar semuanya. Kebaikan dapat menjadi gerakan dalam hitungan detik. Kesalahan juga dapat menyebar dalam hitungan detik. Satu teladan dapat menginspirasi ribuan orang. Satu perilaku buruk dapat ditiru ribuan pengikut. Kemerdekaan di era digital tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan berbicara, mengunggah, berkomentar, atau memilih. Kemerdekaan harus disertai kedewasaan untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan setelah menekan tombol “kirim”.
Kemerdekaan yang Berubah Menjadi Cermin
Kemerdekaan seharusnya menjadi ruang untuk memanusiakan manusia. Manusia merdeka bukan manusia yang bebas melakukan apa saja. Manusia merdeka adalah manusia yang mampu mengendalikan diri ketika memiliki pilihan. Ia berani berkata “tidak”, pada sesuatu yang salah meskipun peluang keuntungan terbuka. Ia mampu menahan amarah. Ia mampu menghentikan rantai penghinaan sebelum berubah menjadi kekerasan.
Perspektif Hindu menawarkan kompas yang sangat relevan melalui Tri Hita Karana: Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan. Ketiganya bukan sekadar konsep tradisional. Ketiganya dapat menjadi etika kehidupan untuk membaca persoalan modern.
Parhyangan: Merdeka dari Perbudakan Diri
Parhyangan menempatkan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pondasi kehidupan. Kesadaran spiritual mengingatkan bahwa manusia bukan pusat dari segala sesuatu. Jabatan, uang, kekuasaan, dan popularitas bukan tujuan akhir kehidupan. Ketika spiritualitas hidup, jabatan dipandang sebagai amanah, bukan kesempatan memperkaya diri. Kekayaan dipandang sebagai sarana berbagi, bukan alasan merendahkan sesama. Teknologi digunakan untuk memperluas manfaat, bukan menyebarkan kebencian. Kebebasan digital diarahkan oleh kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki nilai moral. Parhyangan mengajak kita bertanya: sebelum menerima sesuatu, apakah ini mengganggu Integritas? Sebelum menggunakan kekuasaan, apakah keputusan ini adil? Sebelum mengunggah sesuatu, apakah ini membawa kebaikan? Pertanyaan sederhana dapat menjadi rem bagi ego.
Pawongan: Merdeka Berarti Tidak Menjajah Sesama
Pawongan berbicara tentang hubungan harmonis antarmanusia. Konsep ini menemukan relevansinya ketika masyarakat menghadapi perundungan digital, eksploitasi anak, kekerasan, polarisasi, diskriminasi, dan kesepian sosial. Anak bukan alat untuk memenuhi ambisi orang dewasa. Anak adalah manusia yang memiliki martabat, hak, dan masa depan. Remaja yang sedang berjuang dengan tekanan hidup bukan objek untuk dihakimi. Seseorang yang sedang kehilangan harapan membutuhkan ruang aman untuk didengar. Pencegahan narkoba membutuhkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara yang hadir sebelum seseorang jatuh semakin jauh. Empati menjadi bentuk Patriotisme yang konkret. Menolong satu orang yang sedang jatuh mungkin tidak masuk berita. Mendengarkan seseorang yang merasa sendirian mungkin tidak menjadi viral. Membela anak dari eksploitasi mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan. Nilainya tetap besar karena kemanusiaan tidak selalu membutuhkan penonton atau follower.
Palemahan: Merdeka Tanpa Merusak Rumah Bersama
Palemahan mengajarkan keharmonisan manusia dengan alam. Persoalan sampah menjadi contoh paling dekat. Kita sering berbicara tentang mencintai bumi, tetapi masih meninggalkan sampah setelah kegiatan. Kita mengagungkan keindahan alam, tetapi membiarkan sungai, pantai, dan lingkungan menerima sisa konsumsi. Alam tidak pernah benar-benar membuang sampah kepada kita. Manusialah yang mengirimkannya kembali kepada dirinya sendiri melalui banjir, pencemaran, penyakit, dan rusaknya ekosistem. Menjaga kebersihan bukan sekadar kegiatan gotong royong. Menjaga alam adalah bentuk penghormatan terhadap kehidupan.
Panca Sraddha: Lima Keyakinan, Satu Arah Kehidupan
Panca Sraddha memberikan fondasi keyakinan Hindu: Brahman Sraddha, Atman Sraddha, Karmaphala Sraddha, Punarbhawa Sraddha, dan Mokhsa Sraddha. Kelima keyakinan tersebut dapat menjadi kompas moral dalam menjalani kemerdekaan. Brahman Sraddha meneguhkan kesadaran akan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber kehidupan. Atman Sraddha mengingatkan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat Atman yang suci. Kesadaran tersebut seharusnya menumbuhkan penghormatan terhadap martabat manusia. Karmaphala Sraddha mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki akibat. Korupsi tidak berhenti pada angka yang hilang. Dampaknya dapat merambat menjadi pelayanan publik yang buruk, ketidakadilan, dan hilangnya kepercayaan. Sampah yang dibuang sembarangan tidak berhenti di tempat ia dilempar. Dampaknya dapat kembali kepada kehidupan manusia. Punarbhawa Sraddha mengingatkan kesinambungan perjalanan kehidupan. Pesan ini dapat menjadi ajakan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup. Mokhsa Sraddha mengarahkan manusia menuju kebebasan sejati dari keterikatan dan kegelapan batin. Makna kemerdekaan akhirnya menjadi semakin dalam: bukan sekadar bebas dari penjajah, tetapi bebas dari sifat-sifat yang menjadikan kita penjajah bagi diri sendiri dan orang lain.
Bhagavad Gita III.21: Keteladanan adalah Perjuangan
यद्यदाचरति श्रेष्ठस्तत्तदेवेिरो जनः ।
स यत्प्रमाणं कुरुिे लोकस्तदनुवितिे ॥ ३.२१ ॥
yad yad ācarati śreṣṭhas
tat tad evetaro janaḥ
sa yat pramāṇaṁ kurute
lokas tad anuvartate
Artinya:
“Apa pun yang dilakukan oleh orang yang menjadi teladan akan diikuti oleh orang lain. Apa pun standar yang ia tetapkan melalui tindakannya, dunia akan mengikutinya.”
Bhagavad Gita III.21 menempatkan keteladanan sebagai kekuatan sosial. Pemimpin, guru, orang tua, tokoh masyarakat, pejabat, pendidik, kreator konten, dan setiap orang yang memiliki pengaruh memiliki tanggung jawab moral menjadi teladan. Dunia digital membuat pesan sloka ini semakin kuat. Dahulu teladan terutama terlihat oleh lingkungan terdekat. Kini satu tindakan dapat direkam, dibagikan, disaksikan, dan ditiru oleh ribuan bahkan jutaan orang. Pertanyaan pentingnya bukan lagi “berapa banyak pengikut saya?”, melainkan “perilaku apa yang sedang saya ajarkan melalui kehidupan saya?” Jumlah pengikut tidak otomatis menunjukkan kualitas teladan. Viral tidak selalu berarti benar. Ramai tidak selalu berarti bernilai. Konten yang memperoleh jutaan tayangan tetap dapat kosong apabila tidak membawa manusia menuju kebaikan.
Dari Viral Menjadi Bernilai
Generasi digital membutuhkan bentuk Nasionalisme yang baru. Nasionalisme tidak berhenti pada unggahan Merah Putih setiap Bulan Agustus. Nasionalisme hadir ketika seseorang memilih jujur meskipun tidak ada kamera. Nasionalisme hadir ketika pejabat menolak gratifikasi. Nasionalisme hadir ketika orang dewasa melindungi anak. Nasionalisme hadir ketika remaja berani berkata tidak pada narkoba. Nasionalisme hadir ketika keluarga mau mendengar anggotanya yang sedang rapuh. Nasionalisme hadir ketika warga mengurangi sampah dan merawat lingkungan. Era digital membutuhkan manusia yang tidak hanya cepat membagikan informasi, tetapi juga cepat melakukan kebaikan. Kita membutuhkan keberanian memeriksa fakta, kesediaan meminta maaf, kemampuan berbeda tanpa membenci, serta kedewasaan untuk tidak menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan hiburan. Setiap generasi memiliki medan perjuangannya sendiri. Generasi terdahulu menghadapi penjajahan fisik. Generasi sekarang menghadapi penjajahan yang dapat menyusup ke pikiran, perilaku, algoritma, budaya konsumsi, dan cara kita memperlakukan sesama. Pertempuran itu tidak selalu membutuhkan senjata. Pertempuran itu membutuhkan karakter. Pertanyaan kemerdekaan perlu diubah dari “Apa yang bisa saya dapat dari kemerdekaan?” menjadi “Apa yang dapat saya lakukan agar orang lain merasakan kemerdekaan?” Merdeka berarti mampu membuat orang lain aman. Merdeka berarti mampu membuat anak tumbuh tanpa dieksploitasi. Merdeka berarti mampu hidup tanpa narkoba. Merdeka berarti mampu bekerja tanpa korupsi. Merdeka berarti mampu berbicara tanpa merendahkan. Merdeka berarti mampu menikmati alam tanpa menghancurkannya.
Penutup: Memerdekakan Kemanusiaan
Delapan puluh satu tahun kemerdekaan adalah usia yang panjang untuk sebuah bangsa, tetapi terlalu singkat jika kita berhenti belajar menjadi manusia. Bendera Merah Putih bukan hanya simbol kemenangan atas penjajahan masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan selalu membutuhkan penjagaan. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk memilih: menjadi bagian dari masalah atau menjadi bagian dari perubahan. Tri Hita Karana mengajarkan harmoni dengan Tuhan, sesama, dan alam. Panca Sraddha memberikan keyakinan tentang hakikat kehidupan dan arah pembebasan. Bhagavad Gita mengingatkan bahwa tindakan orang yang menjadi teladan dapat diikuti masyarakat. Ketiganya bertemu pada satu pesan: Kemerdekaan harus diwujudkan melalui Dharma. Jangan biarkan kemerdekaan hanya menjadi seremoni tahunan. Jadikan ia kebiasaan harian. Jadikan kejujuran sebagai gaya hidup. Jadikan empati sebagai kekuatan. Jadikan kepedulian sebagai identitas. Jadikan lingkungan sebagai rumah bersama. Jadikan media sosial sebagai ruang menebar nilai, bukan sekadar mengejar validasi. Kita sudah merdeka. Lalu mengapa masih saling menjajah? Mungkin jawabannya ada pada diri kita sendiri. Selama keserakahan masih menguasai, selama pembenaran lebih kuat daripada kebenaran, selama penderitaan orang lain tidak menggerakkan hati, perjuangan kemerdekaan belum selesai. Merdeka bukan hanya ketika penjajah pergi. Merdeka adalah ketika Dharma tinggal di dalam diri. Merdeka adalah ketika empati kembali menjadi bahasa manusia. Merdeka adalah ketika kebebasan berjalan bersama tanggung jawab. Merdeka adalah ketika kita tidak lagi menjadi penjajah bagi sesama. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka dalam pikiran. Merdeka dalam tindakan. Merdeka dalam Dharma. Merdeka dalam Nilai Kemanusiaan. Catatan Referensi : Sloka Bhagavad Gita III.21 disajikan dalam aksara Devanagari, transliterasi, dan terjemahan bahasa Indonesia berdasarkan rujukan teks Bhagavad Gita. Data kesehatan jiwa anak merujuk pada Kementerian Kesehatan (*).