Tumpek Krulut Tepat Purnama Kapitu
Momentum, “Ketika Kasih Sayang Bertemu Cahaya Kesadaran”

Luh Irma Susanthi, S.Sos, M.Pd

Oleh : Luh Irma Susanthi, S.Sos.M.Pd

(Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Buleleng)

Tumpek Krulut bertepatan dengan Purnama Kapitu (3 Januari 2026) adalah momentum pertemuan Dewasa Ayu yang memiliki vibrasi sangat luar biasa, dahyat. Perlu kita pahami, tidak setiap hari suci hadir dengan getaran dan vibrasi yang sama. Ada hari-hari tertentu yang seolah membawa pesan lebih dalam dari semesta, mengetuk kesadaran manusia agar berhenti sejenak dan mendengar suara bathinnya sendiri. Tumpek Krulut yang bertepatan dengan Purnama Kepitu adalah sebuah perjumpaan sakral antara kasih sayang dan cahaya kesadaran.

Dalam Lontar Sundarigama, Tumpek Krulut dimaknai sebagai hari penyucian rasa, saat manusia diajak melembutkan bathin dan merawat keindahan jiwa. Ia dipersembahkan kepada Bhatara Iswara, manifestasi Tuhan sebagai penjaga kesucian, seni, dan keharmonisan. Hakikat Tumpek Krulut tidak berhenti pada vibrasi gamelan, kidung, atau simbol seni. Ia adalah ajakan untuk mendiamkan sejenak kebisingan bathin yang selama ini menumpuk oleh amarah, luka, kekhawatiran dan kekecewaan. Ketika Tumpek Krulut jatuh bertepatan dengan Purnama Kepitu, maknanya menjadi berlapis.

Purnama adalah fase bulan paling terang menurut perhitungan kalender padewasan. Ini sebuah simbol puncak kejernihan pikiran dan keterbukaan hati. Kepitu, secara spiritual sering dikaitkan dengan proses penyembuhan dan pemurnian emosi.  Konsepnya sederhana, namun penuh makna dan kemampuan untuk memahami konsep Sapta Timira yang selalu mengikuti ritme kehidupan. Sapta Timira, tujuh kegelapan yang berkubang di dalam diri manusia. Kegelapan ini harus diterangi oleh spirit, kesadaran dan kecerdasan. Dengan demikian, pertemuan Tumpek Krulut dengan Purnama Kapitu hari ini, bukan sebuah kebetulan, melainkan penyatuan rasa yang dilembutkan dan pikiran yang diterangi, di tengah realitas hari ini ketika kasus bullying, depresi, dan bunuh diri, terutama di kalangan Gen Z berulang terjadi dan semakin mengkhawatirkan. Perpaduan Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu terasa sangat relevan menjadi ajang kontemplasi bathin guna mengatasi berbagai kekhawatiran, depresi dan bullying.

Kita hidup di jaman yang ramai, meriah dengan hiruk-pikuk suara, tetapi sangat miskin empati. Banyak anak muda terlihat kuat di layar, namun rapuh di balik senyum digitalnya. Mereka sering merasa tidak cukup baik, tidak didengar, dan tidak dimengerti. Melalui konteks inilah, pesan Tumpek Krulut menemukan urgensinya. Kasih sayang dalam Hindu bukan emosi sesaat, tetapi laku hidup, sebuah sadhana spiritual yang patut dibersamai. Pustaka suci Bhagavadgita menegaskan bahwa kualitas manusia utama terletak pada welas asihnya,

adveṣhṭā sarva-bhūtānāṁ maitraḥ karuṇa eva cha

nirmamo nirahankāraḥ sama-duḥkha-sukhaḥ kṣhamī

santuṣhṭaḥ satataṁ yogī yatātmā dṛiḍha-niśhchayaḥ

mayy arpita-mano-buddhir yo mad-bhaktaḥ sa me priyaḥ

(Bhagavadgita XII.13 dan 14)

Artinya :  Ia yang tidak membenci siapa pun, bersahabat, penuh kasih dan welas asih dialah yang dicintai Tuhan.

Bullying tumbuh dari ego dan kebencian, sedangkan bunuh diri sering lahir dari perasaan tidak dicintai atau putus asa karena merasa tak berguna dan atau dikhianati. Jawaban spiritualnya bukan sekadar nasihat “harus kuat”, “harus tabah”, melainkan kehadiran orng tua, sahabat dan kerabat yang mampu menenangkan hati dan empati yang nyata. Purnama Kepitu menguatkan pesan ini dengan simbol cahaya. Bhagavadgita mengingatkan bahwa dalam diri setiap manusia ada cahaya yang tidak pernah padam:

(Bhagavadgita XIII.17)

Ia adalah cahaya dari segala cahaya, melampaui kegelapan, dan bersemayam di hati setiap makhluk. Bagi mereka yang sedang berada di titik terendah hidupnya, sloka ini adalah pengingat bahwa hidupnya tetap bernilai, meskipun pikirannya sedang gelap. Tumpek Krulut berfungsi melembutkan jalan agar cahaya itu kembali terlihat, tidak terhalang oleh luka bathin dan merasa hidup tiada berharga (nirguna).

Namun penting disadari, ritual saja tidak otomatis menyembuhkan luka bathin. Lontar Sundarigama secara halus mengingatkan bahwa upacara tanpa penghayatan yag benar hanya akan menjadi rutinitas kosong. Bhagavadgita bahkan menegaskan bahwa manusia harus berperan aktif menyelamatkan dirinya, diperkuat dalam Pustaka Suci  Bhagavadgita VI.5

uddhared ātmanātmānaḿ

nātmānam avasādayet

ātmaiva hy ātmano bandhur

ātmaiva ripur ātmanaḥ

Artinya yang sangat relevan, hendaknya seseorang mengangkat dirinya dengan kesadaran, jangan menjatuhkan dirinya sendiri. Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, mendengar tanpa menghakimi, menciptakan ruang aman di keluarga dan sekolah, serta mengakui bahwa kesehatan mental adalah bagian dari dharma yang menjaga kehidupan.

Lalu, siapa yang patut disalahkan ketika di hari suci sekali pun masih ada duka dan dusta? Ajaran  Hindu tidak mengajarkan mencari kambing hitam, melainkan introspeksi kolektif. Bukan hari sucinya yang gagal, tetapi kita yang sering lupa menghidupkan dan memetik nilainya dalam keseharian.

Jika Tumpek Krulut melembutkan hati dan Purnama Kepitu menerangi pikiran, maka perpaduannya adalah yadnya bathin yang sangat mulia sebuah persembahan kasih sayang untuk menyelamatkan kehidupan. Semoga momentum suci ini menjadi awal perubahan, ketika empati lebih kuat daripada ejekan, dan cahaya harapan lebih terang daripada keputusasaan.

Lontar Sundarigama menekankan bahwa hari suci Tumpek bukan hanya peristiwa ritual, tetapi titik harmonisasi antara bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (diri manusia). Tumpek Krulut menghaluskan rasa (bhava), Purnama Kepitu menerangi manah (pikiran). Ketika rasa dilembutkan dan pikiran diterangi, maka kemarahan kehilangan tempatnya, kebencian melemah, empati menemukan ruang tumbuh. Inilah kondisi bathin ideal untuk menekan kekerasan verbal, bullying, dan keputusasaan hidup. Nilai dalam cahaya kesadaran dan kasih sayang adalah  yang termulia. Makna pustaka suci Bhagavadgita dan kajian lontar Sundarigama  sebagai peneguh kesadaran umat untuk menegaskan bahwa cahaya kesadaran adalah kunci pembebasan dari kegelapan bathin. Lokha Samasta Sukinoh Bhavantu, Semoga Semua Makhluk Berbahagia(*).

Share :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email