— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026
‘Vāk-Pāruṣya’ (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai “kekerasan verbal”, “kata-kata kasar”, atau “kekejaman ucapan”. Vāk-Pāruṣya adalah ciri utama pemimpin yang sakit jiwa. Dalam Dharmasastra dan teks-teks kuno Hindu Dharma, Vāk-Pāruṣya tidak sekadar dipandang sebagai perilaku buruk atau komunikasi yang payah; melainkan diklasifikasikan sebagai pelanggaran dharma, penyakit psikologis, dan dosa spiritual yang serius. Mari kita baca bagaimana Vāk-Pāruṣya — pelanggaran dan kekerasan verbal — dipahami dalam kitab sastra Hindu Dharma sebagai ciri kepemimpinan yang sakit:
- Vāk-Pāruṣya dalam Dharmasastra
Dalam kitab Manusmriti dan Naradasmriti, Vāk-Pāruṣya terdaftar sebagai salah satu rumpun hukum (Vyavaharapada). Konsep ini mencakup tiga tingkat pelanggaran verbal:
- Ninda: Menghina karakter, garis keturunan, profesi, atau penampilan fisik seseorang.
- Anrita-Vachana: Menyebarkan kebohongan yang jahat atau rumor palsu untuk merusak reputasi seseorang.
- Abhibhashana: Menggunakan bahasa yang agresif dan menakutkan untuk menimbulkan rasa takut atau trauma psikologis pada orang lain.
Dharmasastra mengatur pemimpin seperti ini seharusnya dihukum (Danda) karena Vāk-Pāruṣya yang dilakukan oleh seorang pemimpin adalah relasi kuasa yang tidak sehat, pemimpin menjadikan warganya sebagai korban.
- Sifat Keraksasaan (Asuric Guna)
Dalam Bhagavad Gita (Bab 16, Ayat 4), Sri Krishna menguraikan ciri-ciri orang yang memiliki sifat merusak, narsistik, atau keraksasaan (Asurim Sampadam).
Dambho darpo ’bhimānaś ca krodhaḥ pāruṣyam eva ca
Ajñānaṁ cābhijātasa pārtha sampadam āsurīm
Artinya: Kemunafikan, keangkuhan, kesombongan, kemarahan, kata-kata kasar (pāruṣyam), dan ketidaktahuan—kualitas-kualitas ini dimiliki oleh orang-orang yang bersifat keraksasaan, wahai Partha.
Ketika seorang pemimpin atau individu menggunakan Vāk-Pāruṣya, ia sepenuhnya digerakkan oleh Rajas (nafsu yang merusak) dan Tamas (kegelapan/ketidaktahuan). Hal ini mengindikasikan bahwa sebagai pemimpin ia telah kehilangan kendali penuh atas pikiran (Manas) dan egonya (Ahamkara).
- Pelanggaran terhadap Ahimsa (Tanpa Kekerasan)
Ajaran Hindu menegaskan bahwa kekerasan (Himsa) tidak hanya berbentuk fisik. Kekerasan terjadi dalam tiga dimensi: Manasa (dalam pikiran), Vacha (dalam ucapan), dan Karmana (dalam perbuatan). Vāk-Pāruṣya dianggap sebagai kekerasan verbal.
Teks seperti Mahabharata memperingatkan bahwa luka fisik akibat anak panah atau pedang bisa sembuh seiring waktu, tetapi luka psikologis mendalam yang ditimbulkan oleh kata-kata kasar yang kejam (Vāk-Pāruṣya) dapat bertahan seumur hidup dan menghancurkan keluarga, tim, hingga kerajaan dari dalam.
- Penawarnya: Vāṅ-Mayam Tapas
Kebalikan dari Vāk-Pāruṣya adalah Vāṅ-Mayam Tapas (Disiplin Ucapan), yang sangat ditekankan bagi para pemimpin maupun spiritualis. Seperti yang dinyatakan dalam Bhagavad Gita (17.15), ucapan yang benar harus lolos dari tiga filter utama:
- Anudvega-karam: Tidak boleh menimbulkan kecemasan, ketakutan, atau penderitaan bagi orang lain.
- Satyam: Harus menyampaikan kebenaran yang mutlak.
- Priya-hitam: Harus diucapkan dengan cara yang menyenangkan (sopan) dan ditujukan demi kebaikan/manfaat nyata bagi pendengarnya.
Dalam konteks kepemimpinan, seorang pemimpin yang melakukan (bahkan mengandalkan) Vāk-Pāruṣya dalam kepemimpinannya, dalam pandangan ajaran Hindu Dharma, dinyatakan sebagai orang yang bangkrut secara spiritual. Kekuatan sejati terletak pada penguasaan atas lidah sendiri, sementara kata-kata kasar hanyalah tameng penutup yang bising untuk karakter yang rapuh (*).