Ritual penyucian umat Mahagangga Tirtha Gamana akan digelar pada 15 Pebruari 2026 mulai pukul 16.00 WIB di halaman depan Candi Prambanan. Ritual berskala Internasional ini akan dipuput oleh 33 Sulinggih anggota Sabha Pandita dan para Pandita dari Jawa Tengah dan Jogyakarta dengan menggunakan ribuan tirtha. Diperkirakan kegiatan ini akan melayani 10 ribu lebih umat Hindu yang hendak malukat. Demikian disepakati dalam pertemuan antara Dharma Adhyaksa Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba dan pimpinan Sabha Pandita dengan Ketum Pengurus Harian PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya yang dipandu Dr. Ir. I Wayan Jondra, M.Si di Puri Agung Griya Surya Bandana Jalan Cepaka 99 Banjar Cepaka, Dalung, Badung pada Minggu, 21/12/2025. Rapat yang berlokasi di Griya yang sangat megah dan luas ini dihadiri oleh para Wakil Dharma Adhyaksa yakni Ida Pandita Mpu Siwa Buda Daksa Darmita, Ida Rsi Agung Jayamukthi, dan anggota Sabha Pandita Ida Sri Begawan Yogananda, Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata, Ida Rsi Agung Nanda Kusuma Wijaya Manuaba yang juga tuan rumah dan sejumlah Sulinggih dari berbagai Griya di Bali.

Untuk mensukseskan agenda besar ini, panitia gabungan dari unsur PHDI Pusat dan pengelola Candi Prambanan dan Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan akan berkoordinasi menyiapkan Bale Pawedan untuk kapasitas 33 atau lebih. Mahagangga Tirtha Gamana akan didahului oleh prosesi penyucian air (ngarga tirtha) yang diambil dari Candi Kedulan dengan mobil tangki dan dibawa ke Candi Prambanan (menjadi tirtha anyar/toya ning). Tirtha anyar ini akan dicampur dengan Tirtha yang dimohon dari sembilan candi di Jogyakarta dan Jawa Tengah oleh panitia dan para Pinandita di wilayah masing-masing. Seperti diketahui, saat ini ada sembilan candi tempat mohon Tirtha yakni : (1). Tuk Mas; (2) Candi Losari; (3) Petirtaan Umbul; (4) Candi Karangnongko; (5) Sumur Situs Ratu Boko; (6) Candi Kedulan; (7). Candi Sewu; (8) Sumur Candi Prambanan dan (9) Umbul Geneng.
Tirtha juga dimohonkan di Candi Brahma, Wisnu, Ciwa, Agastya, Ganesa, dan Durga kemudian dicampur dengan Tirtha yang sudah ada di setiap gentong di Bale Pawedan. Tirtha yang telah dicampur ini kemudian dialirkan ke gentong-gentong Bale Pawedan di depan masing-masing Sulinggih. Puja pangastawa permohonan dan ngarga Tirtha dilakukan oleh 33 sulinggih Sabha Pandita dan Sulinggih dari Jogyakarta dan Jawa Tengah mulai Pukul 15.00 selama satu setengah jam.
Mulai Pukul 16.30 waktu setempat, umat yang hendak malukat sudah dipersilakan datang ke lokasi Mahagangga Tirtha Gamana di halaman Candi Prambanan dengan membawa Tirtha dari rumah masing-masing kemudian dicampur dengan Tirtha Panglukatan dan Tirtha dari seluruh provinsi di Indonesia, sehingga akan tercampur ribuan Tirtha, dengan ribuan do’a untuk prosesi malukat. Mahagangga Tirtha Gamana ini diprediksi akan melayani sekitar 10 ribu umat karena prosesi ini dirangkaikan dengan perayaan Mahasiwaratri di Candi Prambanan.

Mulai Pukul 18.00 WIB akan dilakukan persembahyangan Mahasiwaratri dan Abhiseka V Candi Prambanan dipuput 33 Sulinggih, seraya mohon Tirtha dari Dewa Ciwa di malam Mahasiwaratri. Usai persembahyangan dan nunas tirtha, masing-masing umat dipersilakan nunas Tirtha untuk dibawa pulang dengan menggunakan wadah bukan plastik. Upakara dalam persembahyangan ini menggunakan banten sesuai tradisi dan kearifan lokal Jawa. Sementara, properti berupa Siwa Karana, Dulang Kayu, pemandian Shiva Linggam untuk para Sulinggih dipersilakan dibawa oleh masing-masing Sulinggih. Para Sulinggih lanang-istri dan pendamping (3-4 orang) yang berasal dari Bali akan berangkat menggunakan bus ke Jogyakarta pada 13 Pebruari 2026 dan menginap di Mess TNI AU Jogyakarta. Astungkara even ini akan menjadi acara yang sangat sakral dan ditunggu-tunggu oleh Umat Hindu dari seluruh Nusantara bahkan dunia dan diharapkan akan menjadi ikon ritual Nusantara yang memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi warga di sekitar Candi Prambanan (ram).