Nasib Perempuan Dalam Sastra Kuno
Sugi Lanus Ajak Peserta Mengkaji Relasi Agama, Budaya dan Perempuan

Sugi Lanus memaparkan posisi perempuan dalam Sastra Kuno

SASTRA kuno tidak hanya berisi cerita tentang kepahlawanan, mitologi, maupun ajaran moral, tetapi juga merekam bagaimana masyarakat pada jamannya memandang perempuan, kekuasaan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Hal itu dikatakan Filolog Sugi Lanus dalam Public Lecture dengan tema “Tuhan dan Nasib Perempuan dalam Sastra Kuno”, di Gedung Sasana Budaya Singaraja, Jumat, 3 Juli 2026. Selain sebagai Filolog, Sugi Lanus adalah peneliti, dan budayawan yang dikenal sebagai pegiat dan pelestari utama naskah-naskah kuno (lontar).

Suasana Public Lecture, Jumat (3/7) di Gedung Sasana Budaya Singaraja

Menurutnya, tema itu diusung sebagai upaya untuk membaca kembali berbagai karya sastra klasik secara lebih kritis. Public lecture yang dipandu akademisi IAHN Mpu Kuturan, Dr. I Nyoman Suka Ardiyasa, M.Pd  itu diikuti oleh akademisi, mahasiswa, pegiat sastra, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap kajian budaya dan sastra.

Pria jebolan Fakultas Sastra Unud dan memiliki pengalaman meneliti dengan tim peneliti dari kampus-kampus ternama di berbagai negara  ini mengurai, dalam banyak naskah kuno, perempuan sering ditempatkan dalam posisi yang beragam. Ada yang digambarkan sebagai sosok suci, bijaksana, dan menjadi sumber kehidupan, namun tidak sedikit pula yang diposisikan sebagai pihak yang harus tunduk pada norma-norma sosial yang dibangun oleh masyarakat patriaki. Gambaran tersebut, menurutnya, bukan semata-mata menunjukkan kenyataan yang berlaku pada masa itu, melainkan juga mencerminkan cara berpikir, nilai budaya, serta sistem kepercayaan yang berkembang di lingkungan tempat karya tersebut lahir.

Menurut Sugi Lanus, konsep ketuhanan dalam sastra kuno juga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan peran perempuan. Dalam sejumlah karya, perempuan diposisikan sebagai simbol kesuburan, kasih sayang, dan kebijaksanaan yang memiliki kedekatan dengan nilai-nilai ilahi. Namun, pada karya lainnya, tafsir terhadap ajaran agama dan tradisi justru digunakan untuk membatasi ruang gerak perempuan dalam kehidupan sosial.

Melalui kajian tersebut, peserta diajak memahami bahwa membaca sastra kuno tidak cukup hanya melihat alur cerita, tetapi juga perlu menelaah konteks sejarah, budaya, agama, serta kondisi sosial yang melatarbelakangi lahirnya sebuah karya. Dengan demikian, masyarakat dapat membedakan antara nilai-nilai universal yang tetap relevan hingga kini dengan norma-norma yang merupakan produk jamannya (*).

Share :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email