Tradisi Veda tidak menolak kemajuan, tetapi menawarkan “teknologi bathin” — yakni metode seperti yoga, meditasi, dan kontemplasi — untuk menumbuhkan kesadaran diri, ketenangan, dan keteguhan moral di tengah banjir informasi dan tekanan materialisme. Inilah keseimbangan antara artha, kāma, dan dharma yang memungkinkan manusia hidup dengan tujuan dan kesadaran. Hal itu ditegaskan oleh Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wakil Rektor I, Prof. Dr. I Nyoman Subagia, S.Ag, M. Ag sesaat sebelum membuka secara resmi Fourth Global Sanskrit Conference di Wantilan Ashram Parama Dharma, Yayasan Dharma Sthapanam Bali, Padanggalak Sanur – sebuah pusat Meditasi Angka Asuhan Rasa Acharya Prabhu Dr. I Made Darmayasa, M.A, Selasa (14/10/2025).
Pembukaan Fourth Global Sanskrit Conference 2025 ini dihadiri Wakil Rektor II, Prof. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag, M.Fil.H; Dekan Fakultas Brahma Widya (FBW), Prof. Dr. I Wayan Wastawa, M.A; Kaprodi S3 Ilmu Komunikasi Hindu Dr. I Made Arsa Wiguna, SST. Par, M.Pd. H; Kaprodi S2 Magister Pendidikan Bahasa Bali, Dr. Ni Gusti Ayu Agung Nerawati, S.Ag, M.Si; Dekan Fakultas Darma Duta Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag; Wakil Dekan Fakultas Darma Acharya Dr. Dra. Ni Nyoman Perni, M.Pd; Kaprodi S2 Magister Brahma Widya Dr. I Gede Suwantana, S.Ag, M.Ag dan sejumlah pejabat di UHN I Gusti Bagus Sugriwa.

Fourth Global Sanskrit Conference Tahun 2025 ini diselenggarakan oleh Global Sanskrit Forum, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, dan Yayasan Dharma Sthapanam Bali). Rektor Prof. I Gusti Ngurah Sudiana menyampaikan apresiasi atas kolaborasi internasional untuk pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis Veda yang menghadirkan puluhan pakar Bahasa Sanskerta dari India dan negara lainnya ke Bali.
Guru Spiritual dan Pendiri Yayasan Dharma Sthapanam, Rasa Acharya Prabhu Dr. I Made Darmayasa, M.A disela-sela acara menyatakan, Bahasa Sanskerta adalah bahasa yang terbentuk secara sempurna secara saintifik yang dapat diterima oleh sistem computer. Dengan kebangkitan Bahasa Sansekerta, maka semua tradisi pengucapan Bahasa Sanskerta dalam praktek pengucapan mantram termasuk perlu diperbaiki untuk tidak mengatakan salah. Oleh karena itu, menurut Prabu Darmayasa, momentum konferensi internasional Sanskerta ini sangat penting bagi kebangkitan Bahasa Sanskerta. “Ini adalah konferensi Sanskerta internasional yang pertama dan bersejarah di Indonesia. Dengan dibangkitkan penggunaan Bahasa Sanskerta maka peradaban sanathana dharma akan terbangkitkan secara sempurna” ujarnya.

Prabhu Dr. Darmayasa menghimbau agar para penterjemah pustaka suci Weda mesti menguasai Bahasa Sanskerta agar hasil terjemahannya sesuai dengan maksud sloka di dalam Weda atau Mantra. Kepada masyarakat Bali, ia menghimbau agar lebih tekun dan memahami bahasa Sanskerta. “Putra/putri krama Bali agar mulai belajar Bahasa Sanskerta agar lebih memahami pustaka suci Weda” harapnya.
Masih terkait dengan kebijaksanaan Veda, menurut Prof. I Gusti Ngurah Sudiana, dalam arus globalisasi dan modernitas yang sering menimbulkan disorientasi spiritual, ajaran Mokṣa dan praktek sadhana mengingatkan manusia untuk kembali menemukan makna hidup yang sejati. Olehnya, Fourth Global Sanskrit Conference dengan Tema: “The Relevance of Vedic Dharma and Indian Knowledge Systems in Addressing Contemporary Challenges” (Relevansi Dharma, Weda dan Sistem Pengetahuan India dalam Menanggapi Tantangan Kontemporer) mengandung pesan mendalam bahwa kebijaksanaan Veda bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pondasi nilai yang tetap hidup dan relevan di tengah perubahan dunia moderen. Ajaran-ajaran Veda menuntun manusia untuk memahami keterhubungan antara alam, diri, dan masyarakat dalam satu tatanan kosmis yang disebut Ṛta.
“Prinsip Veda ini mengajarkan bahwa keharmonisan lingkungan bukan kebijakan opsional, tetapi bagian dari dharma manusia untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Ketika dunia menghadapi krisis moral dan lingkungan, nilai-nilai ahimsa dan dharma menawarkan panduan etis agar pembangunan, konsumsi, dan teknologi dijalankan secara berkelanjutan dan penuh tanggung jawab” tegasnya.
Menurut Prof. I Gusti Ngurah Sudiana, di tengah meningkatnya ketimpangan sosial, sistem pengetahuan India menegaskan kembali gagasan Vasudhaiva Kutumbakam — bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga. Nilai ini menolak egoisme dan individualisme ekstrem dengan menekankan solidaritas, rasa kepedulian, dan kesejahteraan bersama (jagad-hita). “Prinsip dharma sosial ini menuntun lembaga-lembaga modern, termasuk pendidikan tinggi, untuk menumbuhkan kebijakan yang inklusif, mengurangi kesenjangan, dan memperluas akses terhadap pendidikan dan kesejahteraan” imbuhnya.
Dijelaskan bahwa, dalam menghadapi tantangan teknologi dan globalisasi, Indian Knowledge Systems mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan (jñāna) harus selalu diimbangi dengan kebijaksanaan (sila). Kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan dan bioteknologi perlu diletakkan dalam bingkai etika dan tanggung jawab sosial. Prinsip Lokah Samastah Sukhino Bhavantu — semoga seluruh makhluk berbahagia — dapat menjadi panduan moral global dalam membangun dunia digital yang beretika dan manusiawi. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak kehilangan arah spiritualnya, tetapi menjadi alat untuk memperluas kesejahteraan dan kedamaian universal.

Akhirnya, menurut Prof. I Gusti Ngurah Sudiana. Vedic Dharma dan Indian Knowledge Systems tidak seharusnya dipandang sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi praktis bagi peradaban modern. Keduanya menawarkan etika, spiritualitas, dan metode berpikir yang dapat diuji, diadaptasi, dan diterapkan dalam kebijakan publik, riset ilmiah, maupun pendidikan. Melalui konferensi ini, diharapkan lahir kolaborasi yang mempertemukan kebijaksanaan kuno dan inovasi modern, demi membangun dunia yang berkelanjutan, beretika, dan penuh kedamaian. Pembukaan Fourth Global Sanskrit Conference Tahun 2025 ini diselingi dengan penandatanganan MoU antara pihak-pihak yang bekerjasama (ram).