Oleh : Luh Irma Susanthi., S.Sos., M.Pd *)
Diera digital ini, kita hidup di antara dua dunia : tradisi dan tren. Di satu sisi, kita bangga dengan warisan leluhur, di sisi lain, kita juga tidak bisa lepas dari gaya hidup moderen, termasuk saat merayakan hari suci seperti Tumpek Landep. Tetapi pertanyaannya : Benarkah Tumpek Landep cuma soal “mantenin motor/mobil” (otonan motor/mobil) ?

Gen Z dan gen Alpha dan umat Hindu secara umum, dihadapkan dengan nilai Pembenaran, Kebenaran dan nilai rasa. Ini penting direnungkan. Kalau kita hanya ikut-ikutan (latah) tanpa paham makna, kita bisa kehilangan esensi yang sebenarnya. Secara filosofis, Tumpek Landep bukan tentang benda, tapi tentang ketajaman pikiran. Kata “landep” bermakna tajam, bukan cuma tajam secara fisik, tapi lebih dalam lagi, ketajaman pikiran (manacika), kebijaksanaan, dan kesadaran diri. Hal ini sejalan dengan ajaran Hindu dalam Pustaka Suci Sarasamuscaya 80 yang menyebutkan : Pikiran adalah sumbernya nafsu, ialah yang menggerakan perbuatan baik dan buruk, oleh karena itu pikiran sangat penting untuk dikendalikan. Salah satu caranya adalah dengan mengamalkan ajaran Tri Kaya Parisudha. Artinya jelas, yang perlu terlebih dahulu “ditajamkan” saat Tumpek Landep adalah pikiran kita. Karena dari pikiran, semuanya bermula. Kalau pikiran kita sudah bersih dan tajam, maka ucapan dan tindakan pun akan ikut benar.
Lalu bagaimana dengan euforia otonan motor? Bagaimana fenomena fantastis yang ternyata bukan salah tetapi kurang tepat karena terjadi pergeseran makna. Dulu, Tumpek Landep digunakan untuk menyucikan senjata seperti keris, tombak, atau alat perang. Tetapi saat ini, “senjata” kita berubah. Bukan lagi pedang, tapi produk teknologi, motor, mobil, laptop bahkan smartphone. Jadi sebenarnya, tidak salah, jika motor ikut “dimuliakan” akan tetapi penting dipahami bahwa setiap ritual mempunyai jalan dan ruang tersendiri. Mari kita belajar untuk bijak dalam nilai sebuah yadnya (ritual). Fenomena Tumpek Landep sebagai otonan motor/mobil ini menggiring umat untuk membenarkan hal yang kurang tepat, sering keliru dan menghilangkan esensinya. Ketika upacara hanya jadi formalitas, atau bahkan sekadar konten sosial media, maka nilainya akan bergeser dari Sattwika menjadi Rajasika atau Tamasika. Padahal jelas dijabarkan dalam Bhagavad Gita 3.7 : “Yas tv indriyani manasa niyamyarabhate’rjuna, karmendriyaih karma-yogam asaktah sa vishishyate.” Artinya, seseorang yang mengendalikan indria dengan pikiran dan bertindak tanpa keterikatan, dialah yang utama. Maknanya sangat dalam. Menggunakan motor itu boleh, bahkan perlu. Tapi jangan sampai kita “dikuasai” oleh motor gaya hidup, gengsi, atau tren. Kita yang harus mengendalikan, bukan sebaliknya. Tumpek Landep seharusnya menjadi momen refleksi,
Pertanyaan yang butuh perenungan : Apakah pikiranku sudah tajam membedakan yang benar dan salah? Apakah teknologi yang kupakai membawa manfaat, atau justru menjauhkan dari dharma? Gen Z menghadapi tantangan besar. Mereka hidup di tengah banjir informasi dan tren yang cepat berubah. Kalau pikirannya tidak “Landep”, maka akan mudah terbawa arus ikut-ikutan tanpa arah. Jadi, bukan tentang salah atau benar “mantenin motor”. Tetapi tentang kesadaran di baliknya.
Dalam konteks Tumpek Landep, tradisi mengajarkan umat Hindu tentang ketajaman diri, terutama pikiran. Sedangkan tren adalah arus yang bergerak cepat, viral, menarik, dan seringkali dangkal. Memang, tren tidak selalu salah, tetapi sering kehilangan kedalaman. Ia lebih fokus pada “terlihat” daripada “terasa”. Masalahnya, ketika tradisi dibungkus tren tanpa pemahaman, yang tersisa hanya simbol. Pada akhirnya, Tumpek Landep bukan tentang apa yang kita pegang, tetapi tentang bagaimana kita menggunakan pikiran kita dalam menjalani hidup.
Masihkah menyebut Tumpek Landep sebagai otonan motor/mobil ?
Atau sudah waktunya kita kembali menajamkan diri? Pertanyaan ini akan terjawab dari bagaimana sudut pandang kita memandang dua simbol penting dalam banten yang digunakan. Tatanan ini diatur dan dijabarkan dalam Lontar Sundarigama. Makna Tumpek Landep jauh melampaui sekadar benda. Dalam lontar ini ditegaskan bahwa Tumpek Landep adalah hari penyucian segala yang tajam (sarwa landep), baik yang bersifat sekala (nyata) maupun niskala (tak kasat mata). Artinya, bukan hanya keris, tombak, atau bahkan motor, tetapi juga pikiran manusia. Karena sesungguhnya, pikiran adalah senjata paling tajam. Di sinilah pentingnya memahami tiga sesayut utama dalam tradisi Tumpek Landep, Sayut Jayeng Perang, Sayut Pasupati dan Sayut Kusuma Yudha.
Sayut Jayeng Perang bermakna menang atas berperang dalam diri. Jayeng Perang secara harfiah berarti menang dalam peperangan. Tetapi perang yang dimaksud bukan perang fisik, melainkan perang bathin: melawan ego, amarah, iri hati, dan kegelapan pikiran, dalam konteks kekinian, perang ini terasa sangat nyata. Perang melawan overthinking. Perang melawan toxic, comparison di media sosial. Perang melawan keinginan untuk selalu terlihat “lebih” dari orang lain. Sesayut Jayeng Perang ini mengingatkan bahwa Tumpek Landep adalah momentum untuk menajamkan kesadaran, agar kita mampu menjadi pemenang dalam peperangan bathin, bukan justru jadi pecundang.
Sesayut Pasupati bermakna memberi Jiwa pada yang Mati. Sesayut Pasupati, memiliki makna yang sangat spiritual. Pasupati adalah proses menghidupkan, memberi kekuatan suci pada sesuatu yang sebelumnya hanya benda biasa, dalam tradisi, Pasupati dilakukan pada senjata agar tidak sekadar menjadi alat (benda mati), tetapi memiliki kekuatan dharma, dalam konteks moderen, ini sangat relevan dan pada hakikatnya pikiranlah yang paling penting di-Pasupati agar mampu kuat menahan segala cobaan diera serba digital.
Sesayut Kusuma Yudha, secara harfiah, Kusuma artinya bunga dan Yudha artinya perang. Kusuma Yudha berarti “berperang dengan bunga.” Ini terdengar paradoks. Bagaimana mungkin perang dilakukan dengan bunga? Tetapi justru di situlah filosofi tingginya. Ini adalah simbol bahwa perjuangan tertinggi tidak dilakukan dengan kekerasan, tapi dengan kelembutan, kebijaksanaan, dan keindahan hati. Tumpek Landep sering dipahami sebagai momentum “menajamkan senjata”. Tetapi dengan Kusuma Yudha, umat Hindu diingatkan bahwa senjata yang paling tajam bukanlah yang melukai, tetapi yang mampu menenangkan. Kemenangan tertinggi bukan saat kita menjatuhkan orang lain, tetapi saat kita mampu merangkul tanpa menyakiti. Jika Jayeng Perang adalah keberanian, Pasupati adalah kesadaran, maka Kusuma Yudha adalah keindahan dalam perjuangan. Tumpek Landep akhirnya mengajarkan satu hal yang sangat dalam, Jadilah tajam dalam berpikir, kuat dalam prinsip, tetapi tetap lembut dalam bersikap.
Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan orang yang tajam tanpa melukai, dan menang tanpa menghancurkan. Jika Tumpek Landep hanya jadi tren, ia mengikat. Tetapi jika dijalankan sebagai Yadnya, ia membebaskan. Itulah hakikat di antara tradisi dan tren.
Apakah kita hanya sedang merayakan benda? Atau sedang memenangkan perang dalam diri dan menghidupkan kesadaran? Hingga hari ini, sebelum membuat persembahan (banten), sebelum kita sembahyang, sebelum berbicara tentang dharma, mari kita jawab dan renungkan pertanyaan ini: Apakah pikiran kita sudah menjadi yadnya yang sebenarnya ? (* Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali). (*)