Wisuda 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Singaraja
Alumni Didorong Kompetitif dan Berjiwa Wirausaha

Rektor IAHN Mpu Kuturan, Perof. Suwindia saat melepas wisudawan pada Wisuda di Gedung Gde Manik Singaraja, Jumat (23/10/2026).

SINGARAJA – Lulusan perguruan tinggi dituntut tidak hanya mampu bersaing di dunia kerja, tetapi juga berani menciptakan peluang usaha secara mandiri dengan berwirausaha.  Tantangan tersebut menjadi perhatian Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif, berintegritas, serta tetap berpegang pada nilai agama dan budaya. Komitmen itu mengiringi wisuda bagi 693 lulusan program sarjana (S-1) dan magister (S-2) yang digelar di Gedung Kesenian Gde Manik, Singaraja, Jumat (23/10/2026). Ratusan lulusan tersebut berasal dari empat fakultas dengan total 18 program studi.

Rektor IAHN Mpu Kuturan, Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A menegaskan, kelulusan bukanlah akhir perjalanan akademik. Para alumni diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, baik dalam dunia kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat. “Wisuda ini bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal bagi para lulusan untuk mengabdikan ilmu yang dimiliki. Kami mengembalikan mereka kepada orang tua dan lingkungan masing-masing untuk bekerja dengan baik serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Suwindia.

Menurutnya, kemampuan lulusan dalam menghadapi persaingan tidak cukup hanya bertumpu pada ijazah. Penguasaan kompetensi, kreativitas, dan keberanian melihat peluang menjadi faktor penting agar alumni dapat beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang. Bahkan, sejumlah mahasiswa IAHN Mpu Kuturan telah bekerja maupun merintis usaha saat masih menempuh pendidikan. Potensi tersebut, kata Suwindia, terlihat pada mahasiswa bidang ekonomi dan pariwisata yang memiliki peluang untuk mengembangkan usaha secara mandiri. “Mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk mulai berkarya. Jika memiliki kemampuan dan peluang, mereka bisa mulai merintis usaha sejak kuliah. Harapannya, setelah lulus mereka semakin mandiri dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki,” ungkapnya.

Untuk mengetahui perkembangan lulusan setelah menyelesaikan pendidikan, pihak kampus juga melaksanakan evaluasi penjaminan mutu dan tracer study secara berkala. Upaya ini dilakukan untuk memetakan perjalanan alumni, termasuk keterlibatan mereka dalam dunia kerja dan kesesuaian pekerjaan dengan kompetensi yang diperoleh selama kuliah. “Tracer study menjadi salah satu cara kami untuk mengetahui sejauh mana lulusan terserap di dunia kerja dan bagaimana mereka mengembangkan diri setelah menyelesaikan pendidikan. Hasilnya menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” jelas Suwindia.

Di sisi lain, IAHN Mpu Kuturan terus memperkuat karakter pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan, agama, dan budaya. Pendekatan tersebut menjadi salah satu ciri khas kampus dalam membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pemahaman terhadap nilai-nilai budaya dan kebutuhan masyarakat. Suwindia menyebutkan, perkembangan kelembagaan dari sekolah tinggi menjadi institut turut mendorong tren positif penerimaan mahasiswa dari tahun ke tahun. Ke depan, kampus berupaya menjaga kekhasan akademik sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan agar semakin relevan dengan perkembangan jaman. “Agama dan budaya menjadi bagian penting yang kami kembangkan melalui ilmu pengetahuan. Kami ingin lulusan memiliki kompetensi yang baik, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai tersebut ketika terjun ke tengah masyarakat,” tegasnya.

Wisuda dihadiri Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H, M.Hum. Dalam kesempatan itu, Wamenag mengapresiasi perkembangan IAHN Mpu Kuturan dan mendorong institusi tersebut untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan serta memperkuat pondasi kelembagaannya. Menurutnya, perubahan status dari sekolah tinggi menjadi institut merupakan modal penting untuk mengembangkan institusi ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk membuka peluang menuju status universitas. Namun, pengembangan kelembagaan harus berjalan seiring dengan peningkatan mutu akademik dan integritas sivitas akademika. “Transformasi kelembagaan harus menjadi momentum untuk terus berbenah. Peningkatan status bukan sekadar perubahan nama, tetapi harus diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan, penguatan tata kelola, serta integritas seluruh sivitas akademika,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi keagamaan memiliki tanggung jawab lebih luas daripada sekadar mengejar keberhasilan pribadi. Ilmu dan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menjawab persoalan masyarakat dan mendukung pembangunan bangsa. “Para lulusan harus mampu mengimplementasikan ilmu yang dimiliki melalui pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Jadilah lulusan yang kompeten, berintegritas, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya,” pungkasnya (*/r).

Share :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email