Upacara Mejaya-jaya dalam Agama Hindu bertujuan untuk penyucian diri secara sekala (lahir) dan niskala (batin), serta sebagai proses pengukuhan spiritual sebelum seseorang mengemban tugas atau tahapan kehidupan yang baru. Tujuan lainnya , membersihkan diri dari pengaruh-pengaruh negatif atau mala, sehingga pikiran, perkataan, tindakan, dan perilaku setiap pengurus senantiasa disucikan dan senantiasa berlandaskan dharma. Selain itu, secara niskala, peserta memohon restu dan anugerah, serta bimbingan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) agar dianugerahkan tuntunan dan petunjuk di jalan yang baik dan benar dalam menjalankan tugas. Upacara Mejaya-jaya dilakukan oleh Pengurus PHDI masa Bhakti 2026-2031 yang baru saja terpilih pada Mahasabha XIII PHDI di Jakarta bersama Pengurus Pinandita Sanggaraha Nusantara (PSN) Pusat 2026-2031 yang juga baru saja terpilih pada Mahasabha IV PSN Pusat di Denpasar. Kedua organisasi ini secara bersamaan melaksanakan upacara Mejaya-Jaya di Pura Agung Besakih, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Upacara ini dipimpin oleh lima Sulinggih Sabha Pandita PHDI Pusat, masing-masing Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Darmita (Dharma Adyaksa PHDI Pusat); Ida Shri Bhagawan Putra Nata Wangsa Pemayun; Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari; Ida Rsi Agung Wayahan Suta Dharma Jaya Giri dan Ida Peranda Rshi Agung Pinatih Kesuma Yoga.
Menurut Ketua Pengurus Harian PHDI, Letjen. TNI I Nyoman Cantiasa, kegiatan ini merupakan salah satu program utama Pengurus PHDI Pusat Masa Bhakti 2026-2031 dalam mengawali tugas sebagai implementasi Dharma Agama dan Dharma Negara guna mewujudkan visi misi PHDI sebagai Majelis Tertinggi Keagamaan Hindu di Indonesia. “Jadi, kami melaksanakan upacara ini untuk penguatan lahir bathin dalam mewujudkan keteguhan mental dan spiritual agar mampu mengemban tugas dan tanggung jawab yang menjadi swadharma guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera, damai, dan harmonis yang dilandasi oleh kesadaran spiritual” ujarnya.
Setelah rangkain ritual Mejaya-Jaya, peserta Mejaya-jaya juga melaksanakan doa khusus guna mendukung upaya penanggulangan Karhutla yang sedang berjalan. Doa ini dipanjatkan sebagai ungkapan keprihatinan terhadap situasi dan kondisi terkini terkait musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, serta dampak negatifnya terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat,
Selanjutnya umat Hindu di seluruh wilayah Indonesia melalui PHDI wilayah dihimbau untuk melaksanakan doa bersama secara serentak pada persembahyangan Hari Suci Purnama Sasih Kelima, baik di Pura Kahyangan Jagat, Pura Dang Kahyangan, Pura Khayangan Tiga, maupun di pemerajan/sanggah masing-masing.
Rangkaian acara Mejaya-Jaya didahului dengan acara Simakrama antara Pengurus PHDI Pusat bersama Gubernur Bali dengan jajaran pemerintah Provinsi Bali beserta unsur Forkopimda, Organisasi Kemasyarakatan Hindu se-Bali, MDA, Akademisi, Forum Rektor, Tokoh Puri, Pasemetonan se-Bali, tokoh adat serta tokoh agama yang bertempat di Wantilan Wiyata Graha, Pura Manik Mas, Besakih, Karangasem, Bali. Simakrama mengambil tema : “Guyub Hindu Nusantara dalam Satu Rumah Besar PHDI”merupakan upaya pengurus PHDI Pusat untuk mendapat saran dan masukan dan yang paling penting adalah mendapatkan data dan fakta mengenai permasalahan yang dihadapi oleh komponen organisasi Hindu dan umat sampai ke tingkat akar rumput. Simakrama diawali dengan dialog dan diskusi. Pengurus PHDI Pusat diharapkan dapat menyusun strategi pembinaan terhadap umat Hindu, khususnya di Bali agar program pembinaannya membumi dan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat Hindu, khususnya di Bali. Selain memetakan masalah, potensi dan strategi pembinaan umat. Hehadiran para pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan tersebut dalam Simakrama ini diharapkan dapat menjalin kolaborasi antara PHDI dengan berbagai unsur tersebut untuk efektifitas pembinaan dan peningkatan sumber daya manusia Hindu.
Dalam perjalanan menuju Pura Besakih, Ketua Pengurus Harian PHDI I Nyoman Cantiasa mengunjungi sekretariat PHDI Kecamatan Rendang, PHDI Desa Rendang untuk memastikan kesiapan struktur dan infrastruktur organisasi dari tingkat desa sampai pusat dapat melaksanakan pembinaan dan pelayanan bagi umat Hindu.
Selesai upacara Mejaya-Jaya di Pura Agung Besakih, Ketua Pengurus Harian bersama Sekjen, Wakil Sekjen dan Ketua Bid Hubla & Infokom berkunjung ke Pasraman Widyalaya Astika Dharma di Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, guna memastikan upaya pemajuan generasi muda Hindu. Para siswa setingkat SMA di Pasraman ini banyak berasal dari Seraya, Abang Karangasem, juga dari Pulau Seram Maluku dan OKI Sumsel.
Menurut pengurus Pasraman Widyalaya Astika Dharma, pendidikan swasta yang mandiri dalam mengembangkan SDM Hindu sejak usia dini dengan karakter yang tangguh dan berdaya saing. Dengan upaya Skala dan Niskala tersebut, semoga Pengurus PHDI Masa Bhakti 2026-2031 dapat melaksanakan swadharmanya dengan baik untuk mewujudkan PHDI sebagai rumah besar umat Hindu Indonesia demi kejayaan Hindu Nusantara (*/r).