Oleh : Luh Irma Susanthi, S.Sos, M.Pd
(Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali)
Tilem Kaulu bukan sekadar malam tanpa bulan. Ia adalah jeda kosmis, saat semesta seolah menutup mata agar jiwa manusia belajar melihat ke dalam. Dalam tradisi Hindu, Tilem merupakan momentum mulat sarira, ketika keheningan menjadi “guru” paling jujur. Pada fase inilah umat diingatkan akan sebuah konsep mulia, Asta Aiswarya : delapan sifat kemahakuasaan Tuhan, tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai pengalaman batin yang bekerja perlahan, namun menentukan arah hidup manusia.
Kisah Mahabharata memberi gambaran mendalam tentang kesadaran bekerja bahkan sebelum seseorang lahir. Saat Sri Krishna menguraikan rahasia formasi perang Cakrabyuha kepada Arjuna, suasana itu sejatinya adalah momen Tilem sebagai ruang pengetahuan yang penuh kesadaran. Saat ini. ajaran luhur disampaikan dalam keheningan fokus dan kesadaran penuh. Di sudut lain, Subadra yang tengah mengandung Abimanyu tertidur sebelum ajaran tuntas. Namun, janin dalam rahimnya menyerap pengetahuan itu. Abimanyu kelak mampu memasuki Cakrabyuha, tetapi gugur karena tak mengetahui jalan keluar. Kisah ini bukan sekadar tragedi perang, melainkan simbol pendidikan kesadaran. Apa yang masuk ke dalam bathin bahkan dalam kondisi tidak sadar akan membentuk nasib. Di sinilah Tilem Kaulu menemukan maknanya sebagai rahim sunyi, tempat benih nilai ditanam. Melalui lensa Asta Aiswarya, kisah ini menjadi semakin terang. Anima, sifat kemahakuasaan untuk menjadi sangat kecil, tampak pada pengetahuan yang meresap ke dalam rahim Subadra kecil, halus, namun berdaya besar.
Di era digital, Anima tercermin pada pesan singkat, video pendek, dan potongan informasi kecil yang diam-diam membentuk pola pikir generasi muda. Mahima, kemampuan menjadi sangat besar, hadir saat ajaran singkat itu menentukan arah hidup Abimanyu. Satu informasi dapat berkembang menjadi keyakinan besar. Inilah kenapa Tilem Kaulu mengajarkan kehati-hatian dalam memilih asupan pikiran, sebab yang kecil dapat menjelma dunia bathin yang luas.
Laghima, kemampuan menjadi ringan, mengajarkan bahwa jiwa yang hening mampu melampaui beban. Dalam kisah ini, keheningan Subadra justru menjadi medium pembelajaran. Dalam konteks kekinian, Tilem Kaulu mengingatkan kita untuk melagukan hidup tidak selalu reaktif terhadap notifikasi, tidak terikat pada keharusan selalu online. Sebaliknya, , sifat menjadi berat dan kokoh, mengajarkan pondasi. Abimanyu memiliki keberanian luar biasa, tetapi pondasi pengetahuan yang tidak utuh membuatnya rapuh. Ini paralel dengan fenomena digital, generasi yang cepat, cerdas, tetapi sering kehilangan kedalaman nilai, rapuh dalam pendirian, mudah menyerah.
Prapti, kemampuan menjangkau segala tempat, tampak pada pengetahuan yang melintasi batas tubuh dari Sri Krishna, Arjuna, Subadra, hingga janin Abimanyu. Di era digital, Prapti terwujud dalam akses tanpa batas. Namun Tilem Kaulu mengajarkan bahwa tidak semua yang dapat dijangkau perlu dimasuki dan atau dimiliki. Prakamya, kemampuan mewujudkan kehendak, terlihat pada tekad Abimanyu memasuki Cakrabyuha. Kehendak kuat tanpa kebijaksanaan sering kali berujung luka. Tilem Kaulu menjadi rem spiritual agar kehendak selaras dengan Dharma.
Isitva, kekuasaan mengatur, tercermin pada Sri Krishna yang memahami keseluruhan strategi masuk dan keluar. Dalam hidup moderen, Isitva adalah kemampuan mengatur waktu layar, emosi digital, dan prioritas hidup, bukan dikendalikan oleh algoritma digital.
Puncaknya adalah Wasistwa kemampuan mengendalikan diri dan alam penguasa mutlak atas segala ciptaannya. Inilah ajaran tertinggi Tilem Kaulu. Keheningan bukan kelemahan, melainkan bentuk penguasaan dan pengendalian diri (sadhana). Perempuan, terutama kaum ibu, memegang peran sentral sebagai penjaga Yatrakamawasaitwa penyaring nilai yang masuk ke dalam rahim fisik maupun rahim sosial keluarga, sifat penentu yang tidak dapat menentang kodrat Beliau
Dengan demikian, Tilem Kaulu, bukan sekadar hari suci, melainkan peringatan etis di tengah hiruk-pikuk jaman digital. Kita hidup dalam Cakrabyuha moderen media sosial, arus informasi, dan budaya instan. Banyak yang tahu cara masuk, tetapi lupa belajar keluar dengan utuh. Melalui kesadaran Asta Aiswarya, Tilem Kaulu mengajak kita kembali ke keheningan, agar setiap pengetahuan yang kita serap tidak hanya membuat kita hebat, tetapi juga bijaksana.
Karena pada akhirnya, seperti Abimanyu, masa depan generasi ditentukan bukan hanya oleh seberapa cepat mereka masuk ke pusaran dunia, melainkan oleh nilai apa yang ditanamkan dalam sunyi sebelum mereka siap menghadapi terang.
Bhagavad Gītā VI.5 menjabarkan : uddhared ātmanātmānaṁ nātmānam avasādayet ātmaiva hy ātmano bandhur atmaiva ripur atmanah. Artinya: Seseorang hendaknya mengangkat dirinya dengan dirinya sendiri, dan tidak menjatuhkan dirinya sendiri. Karena diri-sendirilah sahabat sejati, dan diri-sendiri pula dapat menjadi musuhnya. Śloka ini menegaskan bahwa kuasa tertinggi bukan di luar diri, melainkan dalam pengendalian bathin. Tilem Kaulu menjadi momen sunyi untuk mengangkat diri, bukan larut dalam gelap. Inilah inti Asta Aiswarya. ketika keheningan melahirkan penguasaan diri, dan jiwa menjadi tuan atas pikirannya sendiri. Semoga Semua Makhluk, Berbahagia (*).