Oleh: Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd.
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Buleleng.
Pernahkah Anda merasa sudah melakukan yang terbaik, tetapi justru dipertanyakan? Pernahkah Anda bekerja sungguh-sungguh, tetapi yang terlihat hanya kekurangan? Pernahkah Anda membandingkan perjalanan hidupmu dengan orang lain, lalu bertanya, “Mengapa hidupnya lebih mudah?”
Mungkin kita sedang lupa satu hal: setiap orang memiliki medan perjuangannya sendiri.
Petani berhadapan dengan cuaca. Pedagang berhadapan dengan pasar. Buruh berhadapan dengan tenaga dan waktu. Pelajar berhadapan dengan proses belajar. Guru berhadapan dengan karakter murid. Orang tua berhadapan dengan tanggung jawab keluarga. Pemimpin berhadapan dengan keputusan. Setiap pekerjaan memiliki tantangan, konsekuensi, dan karmanya masing-masing.
Bhagawad Gita II.47 memberikan pengingat yang sederhana, tetapi mendalam :
“Karmany evadhikaras te ma phalesu kadacana, ma karma-phala-hetur bhur ma te sango ‘stv akarmani”. Manusia memiliki hak untuk bertindak, bekerja. Jangan pikirkan hasilnya. Manusia tidak perlu memikirkan hasil dari tindakannya.
Pesan ini bukan berarti kita boleh bekerja asal-asalan. Justru sebaliknya. Kita diajak memberikan yang terbaik pada bagian yang menjadi tanggung jawab kita, lalu belajar menerima bahwa hasil akhir tidak selalu sepenuhnya berada dalam kendali.
Seorang petani menanam benih, merawat tanah, menjaga air, lalu menyerahkan sebagian hasil kepada alam. Pedagang menyiapkan barang dagangan dengan baik, melayani dengan jujur, lalu menerima bahwa tidak semua orang akan membeli. Pelajar belajar dengan tekun, menjaga disiplin, kemudian menghadapi hasil ujian dengan lapang hati. Di situlah karma menjadi latihan bathin.
Pekerjaan bukan sekadar cara mendapatkan uang. Pekerjaan adalah sekolah kehidupan yang tidak memiliki seragam. Tanah mengajarkan petani kesabaran. Pelanggan mengajarkan pedagang keramahan. Tenaga mengajarkan buruh ketangguhan. Murid mengajarkan guru kesabaran. Kegagalan mengajarkan pelajar kerendahan hati. Setiap profesi memiliki pelajaran Dharma.
Kita tidak perlu merendahkan pekerjaan orang lain hanya karena berbeda. Kita juga tak perlu merasa lebih tinggi karena jabatan, seragam, penghasilan, atau popularitas. Kemuliaan pekerjaan tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang terlihat dari luar. Kemuliaan justru tampak dari bagaimana seseorang menjalankan pekerjaannya ketika tidak ada yang melihat.
Pertanyaannya : Apakah kita tetap jujur? Apakah kita tetap bertanggung jawab? Apakah kita tetap menghargai orang lain? Apakah kita masih memberikan yang terbaik mesti tidak ada tepuk tangan? Pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekadar terlihat sukses.
Tubuh adalah sarana untuk melakukan karma. Kaki untuk melangkah. Tangan untuk berkarya. Pikiran untuk mencari solusi. Suara untuk menguatkan. Hati untuk merasa dan memahami. Setiap tarikan nafas adalah kesempatan.
Tuhan memberikan tubuh dan kehidupan bukan hanya agar kita mengejar kenyamanan. Namun memberi kesempatan untuk bertumbuh. Tuhan memberi kesempatan kita untuk memberi manfaat kepada orang lain. Ada kesempatan untuk menjadikan hidup sebagai ladang pengabdian.
Generasi Z hidup dalam jaman ketika keberhasilan sering dihitung melalui angka: jumlah pengikut/follower, jumlah suka/like, penghasilan (income), jabatan, dan pencapaian. Dunia digital membuat perbandingan semakin mudah.
Dharma mengajak kita melihat lebih dalam.
Jangan ukur nilai diri hanya dari hasil. Ukurlah juga dari proses yang membuatmu bertumbuh. Pendidikan pun tidak semata-mata tentang mendapatkan pekerjaan secepat mungkin. Pendidikan adalah bekal untuk mengenali kemampuan, membangun karakter, mengembangkan keterampilan, menciptakan peluang, dan menemukan jalan hidup. Passion tidak selalu ditemukan sejak awal. Kadang ia tumbuh setelah seseorang berani mencoba, gagal, belajar, lalu mencoba lagi.
Tidak semua lulusan langsung mendapatkan pekerjaan. Kenyataan itu tidak membuat pendidikan menjadi sia-sia. Ilmu dapat menjadi modal untuk bekerja, berwirausaha, menciptakan lapangan pekerjaan, melayani masyarakat, dan menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.
Jangan sampai kita sibuk bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” sebelum bertanya, “Apa yang dapat saya berikan?”
Tidak melekat pada hasil bukan berarti tidak peduli. Menerima konsekuensi bukan berarti menyerah. Tidak menyalahkan orang lain bukan berarti membiarkan kesalahan. Kebijaksanaan tumbuh ketika kita mampu membedakan apa yang menjadi tanggung jawab kita dan apa yang berada di luar kendali.
Kerjakan bagianmu. Evaluasi ketika keliru. Belajar ketika gagal. Perbaiki ketika kurang. Hargai usaha, kerja dan perjuangan orang lain. Kita tidak ditugaskan untuk mengatur jalan hidup semua orang. Kita ditugaskan menjaga langkah kita sendiri agar tetap berada di jalan Dharma.
Mungkin makna terbesar sebuah pekerjaan bukanlah berapa banyak uang yang kita bawa pulang, melainkan berapa banyak nilai-nilai kemanusiaan yang ikut pulang bersama kita. Jika setelah bekerja kita menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih peka, lebih rendah hati, dan lebih berguna, sesungguhnya pekerjaan itu telah menjadi jalan pengabdian.
Kerjakan dharmamu (swadharma) bukan untuk membuktikan bahwa dirimu lebih baik daripada orang lain. Kerjakan karena hidup telah memberimu kesempatan. Berkaryalah dengan tubuh yang Tuhan titipkan. Berpikirlah dengan kesadaran yang Tuhan anugerahkan. Layani kehidupan dengan hati yang masih diberi kesempatan untuk merasakan. Mari kita renungkan bersama : hakihat karma dan dharma kehidupan.
Setiap pekerjaan adalah karma. Setiap karma adalah pembelajaran. Setiap pembelajaran adalah jalan menuju kedewasaan. Setiap pengabdian adalah cara kita menghormati nafas kehidupan yang Tuhan berikan. Kerjakan dharmamu. Lakukan yang terbaik. Lepaskan kesombongan atas hasilnya. Tetap semangat dalam dharma. Teruslah menjadi manusia yang bermanfaat (*).