JAKARTA – Kontribusi umat Hindu dalam sejarah Republik Indonesia bahkan dalam sejarah Nusantara sangat nyata. Umat Hindu memberikan kontribusi terhadap peradaban dan kebudayaan yang sampai sekarang telah terbentuk menjadi Indonesia. Bagaimana misalnya kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram Kuno memberi kontribusi yang besar dan semua itu adalah kerajaan Hindu. Kontribusi itu telah ratusan tahun yang lalu terjadi dan sekarang masih kita rasakan. Hal itu ditegaskan Ketua MPR RI, H. Ahmad Muzani sesaat sebelum membuka Mahasabha XIII PHDI bersama Menteri Agama, K.H. Nasaruddin Umar di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Ketua MPR memuji toleransi umat Hindu sekarang tumbuh dan berkembang baik dan menjadi ciri bagi Indonesia berupa penghormatan kepada keyakinan yang berbeda menjadi sesuai yang biasa di Indonesia. “Itu karena warisan dari leluhur kita yang ada di Nusantara dan itu adalah warisan dari Kerajaan Hindu” tegas Muzani disambut dengan tepuk tangan gemuruh oleh seluruh hadirin.
Menurutnya gotong royong dan bantu-membantu menjadi ciri Indonesia bukan karena kita banyak uang tapi karena kita merasa iba dan punya kewajiban untuk membantu yang memerlukan. Itu kearifan yang diwariskan oleh para leluhur kita ratusan tahun yang lalu.
Kepada para sulinggih, Muzani mengucapkan terima kasih atas peran sertanya telah menemani umat ketika susah, senang dan ketika terjadi bencana, merukunkan satu sama lain ketika terjadi sengketa, salah paham. “Memang kerja mereka tidak nyata, sering dilupakan tapi hasilnya luar biasa. Sering kita tidak mengingat orang-orang yang ada di balik bagaimana persatuan itu terjadi, bagaimana orang-orang bekerja bagaimana kerukunan itu terjadi, gotong royong itu terjadi saat – saat terjadi perselisihan dalam kelompok masyarakat. itulah peran para sulinggih, pandita dan pinandita” paparnya.
Menteri Agama K.H. Nasaruddin Umar dalam sambutan singkatnya menjelaskan kurikulum cinta. Menurut Menag, jika sudah saling berbicara, berkomunikasi, maka semua terasa ringan. Beliau mencermati beberapa pasal dalam Bhagawad Gita yang sangat penting digarisbawahi dan menjadi pedoman hidup manusia. Menurutnya, Indonesia patut menjadi teladan bagi dunia karena memiliki sesanti Bhinneka Tunggal Ika, yang memiliki makna yang sangat dalam.
Ketua Umum Pengurus Harian PHDI, Mayjen TNI (Pur) Wisnu Bawa Tenaya (WBT) dalam sambutan singkatnya berterima kasih atas partisipasi dan kontribusi semua pihak hingga akhir kepengurusannya selama 5 tahun di Pengurus Harian. WBT mengajak seluruh umat Hindu untuk bersatu, bahu-membahu sebagaimana pepatah temuas Bali “Raket Teket Sekadi Sampat Lidi, Anggen Nyampatang Luhu”. Ia mengajak semua pihak untuk membantu program Kementerian Agama yakni kurikulum cinta.
Mahasabha Dihadiri 700 Peserta
Ketua Panitia Mahasabha XIII, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr. (Han) menjelaskan, sekitar 700 orang hadir sebagai peserta Mahasabha XIII. Peserta berasal dari berbagai unsur organisasi dan kelembagaan Hindu, mulai dari pengurus PHDI Pusat, utusan PHDI provinsi dan kabupaten/kota, pimpinan organisasi Hindu tingkat nasional, hingga perwakilan yayasan, lembaga, dan komite Hindu tingkat nasional. “Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa Mahasabha XIII menjadi forum konsolidasi yang melibatkan berbagai elemen dalam organisasi dan kehidupan keumatan Hindu di Indonesia,” jelasnya
Dalam laporannya I Nyoman Cantiasa juga menjelaskan bahwa panitia bersama pengurus PHDI telah melaksanakan rangkaian kegiatan Pra-Mahasabha dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) di berbagai daerah. “Rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan di antaranya Pra Mahasabha dalam bentuk FGD, di mana kami belanja masalah di berbagai daerah. forum ini menyerap aspirasi umat terkait transformasi kelembagaan, pelayanan, tata kelola aset, kesehatan, hingga peran anak muda,” terangnya.
I Nyoman Cantiasa juga menyampaikan bahwa pelaksanaan Mahasabha XIII dapat terlaksana melalui kerja bersama berbagai pihak. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut tidak terlepas dari semangat gotong royong seluruh pihak yang terlibat. Mahasabha XIII menurut Cantiasa merupakan forum penting dalam menentukan arah organisasi PHDI, termasuk pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) hingga proses pergantian estafet kepemimpinan. “Mahasabha ini sebagai forum untuk menyusun anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi hingga pergantian estafet kepemimpinan di sini,” ujar I Nyoman Cantiasa.
Mahasabha XIII Tahun 2026 yang akan berlangsung hingga 11 Oktober 2026 dan mengusung tema : “Penguatan PHDI melalui Dharma Agama dan Dharma Negara menuju Indonesia Raya” ini dihadiri sejumlah pejabat negara dan tokoh nasional, di antaranya: Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa; Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI (BKKBN), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Anggota DPR/DPD RI Daerah Pemilihan Bali, Pimpinan TNI/POLRI, Perwakilan Kejaksaan Agung, tokoh lintas agama, pimpinan ormas keagamaan, pimpinan perguruan tinggi Hindu dan perwakilan PHDI Provinsi dan Kabupaten/Kota dari seluruh Indonesia (ram).