Oleh : Ida Sri Bhagawan Yogananda
Manusia memiliki tiga dimensi dalam dirinya: kemanusiaan (Manawa) , sifat kebinatangan, keraksasaan (Danawa), dan sifat ketuhanan (Madhawa) . Ketiganya merupakan potensi yang harus disadari dan dikelola. Sifat kebinatangan bukan semata-mata soal naluri biologis, tetapi ketika manusia dikuasai oleh amarah, keserakahan, kebencian, iri hati, ego, dan nafsu untuk menguasai orang lain. Sementara sifat ketuhanan tumbuh melalui kasih, welas asih, kejujuran, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan kesediaan melayani.
Sungguh sebuah tragedi ketika seseorang memiliki kecerdasan tinggi, pendidikan tinggi, jabatan tinggi, bahkan pengaruh besar, tetapi perilakunya masih dikuasai oleh sifat kebinatangan. Lebih tragis lagi, ketika manusia tidak pernah berusaha membangunkan sifat ketuhanan yang sesungguhnya telah menjadi potensi dalam dirinya.
Lihatlah kehidupan kita hari ini.
Di era digital, manusia bisa terlihat sangat religius di media sosial, tetapi kehilangan kasih dalam kehidupan nyata. Bisa rajin mengunggah kutipan kitab suci, tetapi gemar menghina orang yang berbeda pandangan. Bisa berbicara tentang Dharma, tetapi tindakannya justru melukai sesama.
We have more followers, but do we have more compassion? Kita semakin mudah terhubung melalui teknologi, tetapi apakah kita semakin dekat secara kemanusiaan? Jempol bisa menjadi alat menyebarkan pengetahuan, tetapi juga menjadi senjata untuk menyebarkan kebencian. Kebebasan berpendapat bukan berarti bebas merendahkan orang lain. Berbeda pendapat bukan alasan untuk kehilangan adab.
Di sinilah kisah Avatar Rama dan Krishna menjadi sangat relevan.
Leela dan mahima-Nya bukan sekadar kisah keajaiban Ilahi untuk dikagumi, melainkan sumber perenungan agar manusia belajar mengenali, mengendalikan, dan mengembangkan sifat ketuhanannya.
Kita mengenal Kamsa dalam kisah Sri Krishna. Tetapi jangan hanya mencari Kamsa di luar diri kita. Cobalah bertanya: jangan-jangan Kamsa itu masih hidup dalam diri kita sendiri? Dalam ego yang tidak mau mengalah, kekuasaan yang tidak mau dikritik, kebencian yang dipelihara, dan ambisi yang menghalalkan segala cara.
Dalam pesan spiritual yang disampaikan Bhagawan Sri Sathya Narayana, menjelang kehadiran Avatar terdapat kekuatan Maya dan Yoga yang memiliki peran berbeda. Maya membuat manusia semakin terikat pada kebodohan dan keakuan, sedangkan Yoga menghubungkan manusia dengan kesadaran Ilahi.
Ada pelajaran penting di sini: manusia selalu berhadapan dengan dua arah kehidupan. Terperangkap dalam Maya atau berusaha menuju Yoga. Terus memperbesar ego atau mulai membangkitkan kesadaran.
Lalu, bagaimana dengan jaman Kali Yuga?
Avatar pada jaman ini membawa pesan kasih. Bukan kekuatan senjata untuk menghancurkan manusia, melainkan kekuatan Prema (cinta kasih) untuk mengubah kesadaran manusia.
Prema Namasmaranam—mengingat dan mengucapkan Nama Tuhan dengan penuh kasih—bukan sekadar aktivitas melafalkan nama suci berulang-ulang. Ia harus menjadi latihan untuk membersihkan pikiran, melembutkan hati, mengendalikan perkataan, dan memperbaiki tindakan. Apa gunanya bibir terus menyebut Nama Tuhan jika hati masih dipenuhi kebencian?
Pesan dan Pertanyaan untuk Gen Z : Viral atau Bernilai ?
Jangan hanya berusaha menjadi viral, berusahalah menjadi bernilai. Jangan hanya mengejar validasi manusia, tetapi bangunlah kualitas diri. Jangan merasa hebat karena mampu menjatuhkan orang lain. Justru kekuatan sejati terlihat ketika kita mampu mengendalikan diri sendiri.
Be smart, but also be kind. Be successful, but never lose your humanity. Teknologi boleh semakin canggih, kecerdasan buatan boleh semakin hebat, tetapi jangan sampai kecerdasan manusia berkembang jauh lebih cepat daripada kebijaksanaan dan kasihnya.
Pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil mengalahkan orang lain, melainkan ketika kita berhasil mengalahkan keserakahan, kemarahan, kebencian, dan kesombongan dalam diri sendiri.
The greatest victory is victory over oneself. Itulah perjalanan dari manusia yang sekadar hidup menuju manusia yang memiliki kesadaran Ilahi. Om Tat Sat. Griya Santabana, Payuk, Tembuku Bangli, 01.11.2026