USADA Bali merupakan warisan pengetahuan leluhur yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Bali merupakan salah satu daerah yang memiliki ciri khas tradisi, budaya dan warisan leluhurnya usada Bali di dalam berbagai lontar yang diharapkan dapat menjadi metode baru penyembuhan berciri khas Bali. Hal itu ditegaskan Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si dalam seminar dan bedah buku “Sistem Pengobatan Tradisional Berbasis Aksara Bali” yang diprakarsai oleh Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja, Prof. Dr. I Gede Suwindia, S.Ag, M.A dan Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG bertempat di Kampus IAHN Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Rabu (14/1/2026).
Prof. Duija sangat mengapresiasi terselenggaranya bedah buku dan berharap dari kegiatan ini dapat dikembangkan menjadi sistem pengobatan tradisional khas Bali. “Seminar dan bedah buku ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung dalam sistem pengobatan tradisional Bali, khususnya yang berbasis aksara dan sastra Bali,” ungkap Prof. Duija.

Seminar dan Bedah buku menghadirkan para penulis buku yakni Dr. dr. Ketut Suparna,Sp.B (ONK), M.Si; Prof. Dr. I Wayan Muderawan, M.S dan Gede Suardana,S.Farm, Apt. Sedangkan panelisnya terdiri dari Prof. Dr. I Nengah Bawa Atmaja, M.A, Made Reland Udayana Tangkas,S.S, M.Hum, Ida Bhagawan Agra Segening, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD, Ida Nabe Mpu Dwije Witadharma dan Dr. Putu Suta Sadnyana, S.H, M.H.
Seminar dan Bedah buku oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes atas nama Pemerintah Provinsi Bali. Menurut Gede Anom, bedah buku pengobatan tradisional Bali adalah implementasi Pergub Bali No. 55 Tahun 2019 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional. Menurutnya, Pemprov Bali sangat mensupport kegiatan ini karena sistem pengobatan tradisional adalah warisan leluhur yang mulai digemari masyarakat. “Warisan leluhur aksara Bali yang saat ini belum ilmiah, akan diilmiahkan supaya bisa diterima di rumah sakit-rumah sakit di fasilitas kesehatan (faskes) lainnya. Artinya kalau sudah ilmiah, semua faskes kita harapkan bisa menerima dan bisa menerapkan dipoli kliniknya masing-masing,” ujar Kadiskes Bali.
Ketut Putra Sedana alias dokter Caput menilai pro dan kontra terhadap pengobatan tradisional merupakan hal yang wajar dalam dunia akademis. Dialektika tersebut justru penting untuk melahirkan sintesa yang bermanfaat bagi masyarakat. “Dalam dunia ilmiah ada tesis dan antitesis. Dari situlah muncul sintesa yang memiliki nilai presisi dan bisa digunakan masyarakat. Jadi pengobatan medis dan nonmedis sejatinya berjalan seiring. Warisan leluhur ini bernilai luar biasa yakni ilmu pengobatan tradisional berbasis aksara Bali ini,” ujarnya.

Sementara, penulis buku ‘Sistem Pengobatan Tradisional Berbasis Aksara Bali’, Gede Suardana menjelaskan inisiatif menulis buku tersebut, berangkat dari rasa keprihatinan terhadap kekayaan leluhur Bali yang selama ini terkesan terabaikan. “Saya menilai pengobatan tradisional berbasis aksara Bali memiliki nilai yang sangat besar. Namun lemah dalam sistem dan metodologinya. Bagi saya, kalau hanya ‘mula keto’ maka hal itu tidak bisa menjadi cabang ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kesehatan,” tegas Suardana. Menurutnya buku tersebut memuat sistem dan metode yang terstruktur, agar ilmu pengobatan tradisional Bali dapat dipelajari secara rasional dan ilmiah oleh siapa pun. “Betapa pentingnya edukasi kepada pasien, agar memahami pola terapi nonmedis secara logis,” imbuhnya
Hadir dalam acara ini, Kadis Kebudayaan Drs. I Nyoman Wisandika, Ketua Komisi IV DPRD Buleleng Nyoman Sukarmen dan Sekretaris drh. Nyoman Dhukajaya, M.Si (wan).