Dalam suasana matahari pagi, Sabtu yang cerah itu, 10 Oktober 2026 lalu, SMPN 8 Singaraja sudah bergegas menyambut tim dari Yayasan Anand Ashram, YPAK (Yayasan Pendidikan Anand Krishna). Yayasan ini menaungi Sekolah Satu Bumi (One Earth School), dan AKC (Anand Krishna Centre) Singaraja. Pagi itu para sevadal lengkap dengan tim musiknya datang dalam rombongan sejumlah 22 orang. SMPN 8 Singaraja, berlokasi di Desa Kalibukbuk, Kawasan Wisata Lovina, Buleleng. Pimpinan dan jajaran pengurus sekolah menerima rombongan yang berbagi Program MTDS (Mengajar Tanpa Dihajar Stres) tepat pukul 08.30 Wita.
Program MTDS didisain oleh Guruji Anand Krishna bersama beberapa psikolog dan orang tua siswa, kemudian di-endorse oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2002 melalui Menteri Pendidikan saat itu, Prof. Drs. A. Malik Fajar, M.Sc., yang sekaligus meresmikan program MTDS. Program ini dituangkan dalam buku karya Guruji berjudul “Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Pendidik dan Pemimpin: Mengajar Tanpa Dihajar Stress, Berkarya Tanpa Beban Stress”. Buku yang juga diberikan sebagai dana punia kepada para guru SMPN 8 Singaraja ini telah beredar lebih dari 20.000 eksemplar sejak tahun 2002, seiring dengan semakin banyaknya guru di Indonesia yang telah mengikuti program MTDS.

Kepala Sekolah, Putu Budiastana, S.Pd., M.Pd menyambut kedatangan fasilitator MTDS, Ir. Made Yudanegara dan Ni Komang Trijesi, S.T. Hadir pula Koordinator AKC Singaraja, Ketut Suartika, S.T beserta rombongan panitia. Program untuk memberdayakan 68 guru dan staf SMPN 8 Singaraja ini digelar di Ruang Kelas VII Hatta. Acara dipandu apik oleh MC, Nyoman Wahyuni Apriliani, S.Pd., yang juga seorang guru SDN Desa Nagasepaha. Tiga lagu ceria disisipkan di sela-sela program untuk menghangatkan suasana. Kegiatan yang berlangsung da;lam suasana cerita dan penuh kekeluargaan ini berlangsung hingga jelang pukul 13.00 Wita.
“Salah satu ukuran stres adalah tidak sinkronnya antara gugusan pikiran dan gugusan perasaan,” demikian pandangan Guruji Anand Krishna yang disampaikan oleh fasilitator MTDS. Menyitir penelitian tentang 100 monyet di Jepang, fasilitator menceritakan bahwa setelah 100 monyet di satu pulau berhasil dilatih untuk mencuci ubi sebelum dimakan, monyet-monyet di pulau lain yang tidak dilatih juga dikisahkan ikut melakukan perilaku yang sama. Kisah ini kemudian dikaitkan dengan kerusuhan tahun 1998, ketika aksi pembakaran di Glodok, Jakarta, diikuti kejadian serupa di Solo dan Lumintang, Denpasar.
Fasilitator kemudian menegaskan, “Orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama, apabila diberi pemicu yang sama, maka akan berperilaku yang sama pula.” Bila para guru yang pemikirannya sinkron dengan siswa-siswanya sudah mengalami stres sejak pagi, stres itu pula yang dapat menular kepada anak didiknya. Demikian pula sebaliknya, jika suasana hati dipenuhi keceriaan, semangat yang sama dapat menular kepada para siswa.
Dengan semangat inilah, Program MTDS dihadirkan. Berbagai beban, mulai dari trauma masa lalu, pekerjaan sebagai guru, persoalan sehari-hari seperti cicilan motor, dan hal-hal lainnya, perlu dikelola agar tidak menimbulkan rasa benci terhadap diri-sendiri maupun orang lain. Jika dibiarkan, beban tersebut dapat memunculkan kegalauan, membuat pikiran mulai kacau, dan pada akhirnya memengaruhi keputusan yang diambil.
Untuk mengelola stres seperti itulah, fasilitator mulai memperkenalkan beberapa teknik, dimulai dari teknik pernafasan yang berkaitan dengan frekuensi nafas, denyut jantung, dan gelombang otak. Peserta juga diperkenalkan pada teknik menyayangi diri-sendiri, sesuatu yang mungkin belum pernah dilakukan secara khusus sebelumnya. Teknik-teknik ini sangat berguna jika dilakukan satu hingga dua menit sebelum kelas mengajar dimulai.
“Begitu napas kita mulai melambat, ada memori pengalaman-pengalaman kita yang muncul, yang bisa muncul dalam keadaan jaga, bisa muncul dalam keadaan tidur sebagai mimpi,” demikian tanggapan fasilitator terhadap salah satu pertanyaan peserta. Program ini bertujuan agar peserta tidak was-was atau stres terhadap pikiran apa pun yang muncul.
Berikutnya, fasilitator memperkenalkan latihan yang dapat mendamaikan diri melalui upaya membudayakan emosi. Emosi tidak bisa dihilangkan dan tidak selalu merugikan. Bahkan, dorongan untuk memperbaiki diri secara terus-menerus sesungguhnya juga dapat berasal dari emosi. Inilah pentingnya latihan tersebut. “Setiap manusia memiliki ketakutan-ketakutan dan ketakutannya itu berlapis-lapis. Untuk ketakutan di setiap lapisan itu, ada latihannya sendiri-sendiri,” demikian jawaban fasilitator terhadap seorang guru seusai latihan membudayakan emosi.

Program MTDS kali ini juga diperkaya dengan sesi berbagi pengalaman dari seorang dokter PNS dan seorang doktor biologi yang juga mengajar sebagai dosen di Universitas Udayana. Setelah itu, para guru dibimbing untuk melakukan katarsis melalui latihan pamungkas yang dipandu secara khusus. Setelah peserta menari dan menyanyi riang mengikuti lagu-lagu ceria, acara ditutup dengan penyerahan bingkisan, foto bersama, dan makan bersama.
Semoga semakin banyak guru memperoleh kesempatan mengikuti Program MTDS, sehingga mereka dapat mengajar dan mendidik dengan lebih ceria dan optimal, serta menularkan semangat yang sama kepada anak didiknya (*/r).